Mungkin Akan Kuceritakan #3

#Mungkin_Akan_Aku_Ceritakan
#byBee

Bee sedang duduk di pojok dapur kedainya, menikmati petualangan pada novel yang sudah berkali-kali dia baca. Meski demikian, Bee masih tetap larut dalam setiap diksi yang terangkai di dalamnya.

Sambil sesekali mengerutkan kening tanda otaknya sedang mencerna informasi yang didapatkan dari bacaannya, tanggan kanan berkali-kali dia arahkan ke depan, mencomot snack yang tersaji di meja. Iya, menikmati snack pedas dan air putih hangat adalah kegemarannya.

Bee, gadis yang memiliki gejala penyakit maag tapi tidak pernah bisa meninggalkan makanan pedas. Bahkan dia membuka kedai mie level yang tak jauh dari simpang lima, Semarang. Sebuah kedai baru yang cukup ramai.

Sebenarnya, kedai ini bukan milik Bee seorang sebab Afa pun berperan di dalamnya. Iya, kedai yang berdiri berkat kerjasama dan kerja keras mereka berdua.

Dua tahun lalu setelah lulus kuliah Bee memutuskan untuk mencari pekerjaan meski keinginan untuk melanjutkan S2 belumlah sirna. Dengan bantuan Afa yang telah dia kenal saat masa-masa akhir di kampus, Bee pun bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi sebagai Customer Service. Di tempai itu pulalah Afa bekerja sebagai staf HRD.

Jiwa Bee yang notabene enggan untuk terlalu lama di bawah kendali orang lain inilah yang membuatnya menabungkan sebagian besar gaji, bermaksud akan berhenti menjadi karyawan setelah tabungannya cukup untuk membuka usaha sendiri.

Delapan bulan yang lalu saat tabungan Bee sudah dirasa mencukupi, dia pun mengundurkan diri dari perusahaan. Di saat yang sama pula, kedua orang tua Bee tengah di kejar-kejar hutang dari uang yang mereka pinjam sebagian untuk biaya kuliahnya kala itu. Akhirnya separuh dari tabungan itu Bee gunakan untuk membayar hutang.

Tidak ada penyesalan yang menghampirinya, bahkan untuk terpuruk pun tidak Bee, sudah terlatih untuk menjadi kuat.

Menjadi pengangguran dengan uang yang dirasa tetap cukup untuk modal usaha meski akhirnya harus kembali merancang ulang konsep sebab minimnya modal, dijalani Bee dengan keoptimisan penuh. Menjadi pedagang kaki lima, itulah akhirnya keputusan yang diambil oleh Bee.

"Bee, gimana kalau kita jadi partner saja?"

"Maksud Aa?"

"Kita patungan modal. Dengan begitu bisa sewa kios, kebetulan aku juga punya kenalan yang nyewain kios. Tapi, kamu juga harus ajarin aku masak mie nya."

"Seriusan?"

"Ada raut becandakah di wajahku?"

"Aku juga ingin belajar mandiri, tidak terus-terusan menjadi karyawan Bee."

Ah, kini Bee menemukan satu jawaban... khawatir. Yaa, mimik wajah Afa menggambarkan kekhawatiran. Padanya? Entah Bee pun tidak yakin. Sebab sejak pertemanan ini dimulai, yang Bee tahu bahwa Afa selalu siaga menjaganya dalam koridor batasan yang mereka pahami. Bee juga tahu bahwa Afa selalu sungguh-sungguh dengan ucapannya.

"Bee, kamu pernah bicara tentang singgah. Apakah seperti itu pendapat wanita ketika seorang lelaki mendekatinya?" Kemarin Afa menanyakan itu pada Bee saat mereka baru saja selesai rapat dengan koordinator sebuah event kuliner.

Ya, kedai mereka berkesempatan untuk ikut meramaikan acara kulineran itu. Tentu saja berkat minggu-minggu ini kedai mie level yang mereka kelola berubah menjadi tempat nongkrong muda-mudi hits, begitu kata penyelenggara event.

"Tentu saja tidak A."

"Tapi, bukannya kamu pernah memintaku untuk tidak terus menerus singgah?"

"Iyaa, Bee pernah mengatakan itu pada Aa. Aa lupakah ketika Bee juga bilang bahwa tidak setiap wanita mampu untuk secepat kilat menghapus kenangan dari orang yang pernah menyinggahi hatinya?"

"Tentu Aa ingat, Bee. Bahkan lelaki juga sama."

"Hal pertama yang kebanyakan wanita lakukan ketika seorang lelaki mendekatinya adalah waspada dan juga siaga. Waspada kalau-kalau hanya sebatas dimodusin, siaga kalau pada akhirnya harus kandas ditengah jalan."

"Kalian terlalu jauh memikirkannya, Bee."

"Tidak bolehkah seperti itu? Jika seseorang yang kita cintai bisa menyakiti hati kita maka sudah selayaknya kita mampu menjaga hati agar tidak hancur. Bukankah itu benar?"

"Setidaknya, berilah ruang untuk seseorang memasuki hati. Bukankah memberi kesempatan juga tidak salah?"

"Memberi kesempatan memang tidak selalu salah. Tapi, ketika kesempatan itu diberikan, rasa nyaman menghampiri, kepercayaan diberikan, kemudian faktanya hanya sebagai ajang pencocokan, apakah luka itu tidak terlalu dalam?" Bee sesekali memainkan kaca mobil, seakan mencari udara segar dari luaran sana. Jujur topik yang dibawa oleh Afa ini ibarat pemantik, sedangkan bensin di relung hatinya sudah tumpah. Tinggal dibakar, habislah sudah! Begitu batinnya.

"Ajang pencocokan?" Afa masih belum paham arah pemikiran Bee.

"Iyaa, bukankah sering lelaki kalau ditegur untuk jangan gonta-ganti pasangan dia akan bilang bahwa perlu untuk mencari yang pas? Cewek pun sama A, mau cari yang pas juga. Tapi seringkali cara lelaki lebih sadis. Deketin ini juga deketin itu."

"Itu hanya dari sudut pandang wanita, banyak loh lelaki yang juga dimainin sama wanita, Bee."

"Nah okey, biar Bee bicara secara objektif. Ketika kita mendekati seseorang untuk mengenalnya sebenarnya tidak pernah salah. Sama sekali tidak pernah salah! Yang menjadikannya salah adalah ketika dia menggumbar kata manis, menaburkan benih perhatian yang berlebih sedangkan kita sendiri belum yakin cocok atau tidak," Bee sengaja menjeda kalimatnya, bukan untuk memberi kesempatan Afa untuk berfikir tapi lebih untuk menenangkan hatinya yang bergejolak.

"Sebenarnya bisa disiasati dengan tetap menjalin pertemanan tanpa dibumbui perhatian yang berlebih dan dibuat-buat. Sebab, yang tidak kalah menyakitkan lagi adalah dalam waktu bersamaan juga sedang mendekati orang lain. Bukankah sama saja sedang menjadikan orang lain sebagai bahan perbandingan?"

"Okey, statment yang ini Aa pun setuju. Tidak selayaknya untuk menggores hati orang lain demi kedamaian hati kita. Lantas seperti apa yang wanita inginkan?"

"Aa sedang belajar memahami kaumku?" Goda Bee penuh kemenangan sebab merasa Afa tidak bisa menyanggah argumentnya sekaligus lega karena tanpa terencana uneg-unegnya telah tersampaikan.

"Hais, ayolah Bee, ini juga demi kamu?"

"Nah, kok jadi bisa demi aku?"

"Bukankah besar potensi Aa untuk menghindar dari menyakiti wanita-wanita di luaran sana, dan juga tentunya kamu, ketika Aa belajar memahami kaum kalian?" Ada gugup tersendiri yang tetiba menelusup di hati Afa saat mengatakan ini. Entah sebab apa.

"Wanita itu menyukai ketulusan yang dibuktikan dengan tindakan. Boleh Aa punya mantan asal tidak sekalipun membuatnya sebagai pembanding terhadap pasangan Aa yang sekarang. Boleh perhatian kepada banyak orang, tapi jangan lupa ada batasan yang tidak boleh dilanggar ketika seorang itu lawan jenis kita juga bukan pasangan kita. Dengan begitu, pasangan pun akan lebih menghargai Aa."

"Jadi intinya? Wanita suka sesuatu yang lebih pasti? Bukan janji tapi bukti?"

"Yap menurutku banyak yang akan sependapat dengan aku." Bee memberi senyum di akhir kalimatnya.

Mengingat perbincangan itu membuat konsenterasi kepada novel yang dia baca terbagi. Bee menghela nafas perlahan, menghembuskannya, dan tersenyum. Seolah sedang menghibur hatinya sendiri. Ah, siapakah tuanmu wahai hatiku? Begitulah tanya yang sempat terngiang di kepalanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin Akan Kuceritakan #2

Rindu Yang Terdiam #3