Rindu Yang Terdiam #3
#Menyapa
"Jangan kau sentuh kepala seorang wanita bila kau tidak berniat untuk melindungi dan menjaga hatinya. Terlebih jika kau hanya berniat untuk menggoda"
☆☆☆
Bening dan Azwar berputar keliling kecamatan mencari tempat foto copy an yang bisa menjilid namun belom ketemu. Maklum kecamatan yang mereka tempatin masih tergolong berada di plosok kabupaten hingga fasilitas pun belum memadai. Terlebih akibat bencana tanah longsor yang terjadi telah melumpuhkan perekonomian warga di kecamatan ini karena hampir separoh kecamatan terjadi longsor.
"Bee kayaknya yang disebelah kiri itu gede deh. Coba gih kamu turun." kata Azwar yang kemudian di sambut Bening dengan bergegas menghampiri toko yang ditunjuk.
Tak lama kemudian setelah bertanya kepada penjaga toko, Bening memberi isyarat tangan kepada Azwar untuk menghampirinya.
Tampaknya toko yang terbilang cukup luas itu komplit karna bisa menerima jasa ketik, copy, print dan juga jilid. Azwar dan Bening pun menunggu berkas mereka di kerjakan penjaga toko.
"Bee...." panggilan Azwar memecah keheningan
"Heem...."
"Kamu kurusan. Nggak betah?" tanya Azwar dengan menatap Bening. Sedangkan yang di tatap tampak ragu untuk menjawab.
Bening membuang muka. Demi untuk menghindari tatapan Azwar yang masih mampu menembus hatinya.
"Jangan-jangan kamu ndak dikasih makan ya? Atau kamu kurus karena makin tambah tua terus ketularan keriput kaya nenek-nenek yang di panti. Bahaha." Azwar melempar canda karna tahu Bening enggan berterus terang padanya.
"Apaan sih mas. Nggak lucu ya." Bening memanyunkan bibirnya yang justru disambut gelak tawa oleh Azwar.
"Lah makanya kalau ditanya itu ngejawab Bee biar ndak di buat becandaan. Lagian aku tanyanya serius loh,"
"Betah mas. Aku betah...." Bening tampak ragu dengan jawabannya.
"Tapi...?" Azwar memancing Bening agar mau terbuka.
"Makan olahan tahu mulu. Kan mana bisa aku makan." dengan malu Bening menjawab.
"Bahaha... kasihan di kost makan tahu disini pun dikasih tahu. Kan bisa kamu masak Bee,"
"Bisa sih bisa tapi sungkan yaa kalau tiap hari masak sendiri. Nggak enak sama yang lain nya,"
"Nah berarti bener kan aku ngajak kamu keluar cari makan. Gitu tadi sok nolak diajak." cibir Azwar
"Ish kalau ndak ikhlas tadi ngak usah ngajak,"
"Eleh eleh jangan ditekuk gitu muka nya. Kan becanda aku. Suka liat kamu ngambek. Maaf yaa." Azwar mengacak rambut Bening yang tertutup hijab.
Pergerakan yang tak di perhitungkan oleh Bening itu berhasil membuatnya terpaku sejenak.
Selepas kesadaran nya kembali Bening menampik tangan Azwar.
"Sopan mas. Ish,"
"Iyaa non...." Azwar tersenyum-senyum melihat rona wajah Bening.
Hening
Saat Azwar dan Bening sibuk dengan fikirannya masing-masing, penjaga foto copy menyerahkan hasil jilidan kepada mereka.
"Cari makan dimana?"
"Terserah aku ngikut,"
"Lah kok terserah? Makan tahu mau?"
"Nggak niat ngajak makan?"
"Jangan ngambekan kenapa non. Makanya milih mau makan apa dan dimana. Aku yang traktir,"
"Kan udah bilang tadi. Terserah kamu mas. Aku disini ndak pernah keluar makanya nggak tau apa yang enak dan dimana nya." Bening tampak gregetan sama sikap Azwar.
"Ho ho pantesan kurusan. Ndak pernah refreshing sih." Goda Azwar yang disambut decak malas Bening.
"Cepet naik ntar aku ajak makan yang bisa bikin kamu gemuk." Bening hanya menurut. Ingin protes dengan kata-kata Azwar tapi percuma karna mereka memang selalu seperti itu. Debat tanpa henti.
Hingga rasa yang masing-masing miliki seakan sama sekali tak ada. Terkubur dengan menyisakan goresan-goresan kenangan yang tak luput dari luka.
☆☆☆
Tak berapa lama Azwar dan Bening telah sampai di sebuah kedai Mie Ayam dan Bakso yang terbilang cukup besar dan bersih.
Bening langsung mencari tempat duduk yang berdekatan dengan kipas angin. Ngadem.
"Loh Bening disini juga?" suara seseorang mengejutkan Bening. Kanya.
"Ehh kak. Iyaa,"
"Gabung yaa duduknya. Aku ngincar kipas angin juga. Hehe," kata Anya sambil duduk di kursi yang ada di depan Bening. Kemudian Kanya melambaikan tangan kepada seseorang yang tak lain adalah Afadhil mengisyaratkan bahwa dia duduk disana.
Sekilas Afadhil terkejut melihat Bening lalu tersenyum lebar karna orang yang akhir-akhir ini cukup menyita perhatiannya itu ada disana.
"Loh Bening kok disini? Ngapain? Tadi Kakak ajak ngak mau." Kanya menggeser duduknya hingga kini Afadhil lah yang duduk tepat di depan Bening.
"Hee iyaa kak tadi jilid laporan jadi sekalian makan siang,"
"Sam...." belom sempat Afadhil bertanya, Azwar yang tadi memesankan pesanan pun duduk menghampiri.
"Bee. Flashdisk ku ada di kamu nggak?"
"Nggak ada kan tadi kamu yang bawa mas,"
"Nggak ada di tas ku. Baru inget ini." Azwar sedikit panik.
"Paling ketinggalan di tempat print tadi. Nanti ambil habis makan. Apa mau diambil sekarang?"
"Ntar aja deh habis makan sekalian." Azwar tersadar bahwa ada orang lain di tempat itu. Dua orang yang dia tahu satu pos dengan Bening.
"Ehh kak maaf tadi ndak liat. Hee." Azwar mengulurkan tangan berjabat tangan dengan Afadhil dan juga Kanya sambil diiringi senyum khas nya.
"Santai aja. Jadi kalian kesini nya bareng?" tanya Kanya.
"Iyaa kak." Bening menjawab sambil melempar senyum pada Kanya.
"Pantes tadi di ajak bareng nggak mau ternyata udah janjian." kata Afadhil menggoda meski hati nya ada yang terbakar.
"Nggak janjian kok kak. Aku culik dia tadi di pos." Azwar melempar canda tepat saat pelayan menyodorkan pesanan mereka berempat.
PLAK!
"Awww. Apaan sih mas." Bening menatap heran ke arah Azwar yang menampik tangan nya saat akan mengambil sambal ke tiga kalinya.
"Tadi udah ambil kan? Ngirit!" dengan santainya Azwar menjauhkan mangkuk sambel dari jangkauan Bening.
"Baru dua, satu lagi." Bening meminta kepada Azwar persis seperti anak kecil meminta permen. Namun dicuekin oleh Azwar. Bening hanya manyun kesal mengaduk Mie Ayam nya.
Kanya senyum-senyum menyaksikan tingkah Azwar dan Bening. Dimatanya, itu romantis.
Lain dengan Afadhil yang justru sibuk menebak hubungan apa yang terjalin antara Azwar dengan Bening.
"Nggak usah manyun. Makan yang bener biar nggak makin kurus,"
"Biarin." tampak Bening masih kesal dengan sikap Azwar.
"Bee bisa tolong siniin garamnya?"
Bening hanya melirik garam yang tepat ada di sampingnya.
"Bee...."
Tanpa ba bi bu Bening menaruh dua sendok garam di mangkuk Azwar sambil tertawa.
"Allahuakbar Bee... aku mau makan Mie Ayam loh bukan ikan asin." Azwar tampak kesal dengan sikap Bening.
"Salah sendiri usil duluan tadi,"
"Okey fine. Maaf yaa Bee." Azwar mengalah dengan meminta maaf kepada Bening. Sadar kalau memang sedari tadi dia yang memulai. Tangan Azwar refleks akan mengusap kepala Bening persis seperti apa yang selalu dia lakukan. Tapi kali ini Bening telah memprediksi gerakan itu dan menampiknya pelan.
'Bee....'
Afadhil baru sadar atas panggilan ini. Azwar memiliki panggilan khusus kepada Bening. Ahh apa jangan-jangan...
Entahlah Afadhil belom mau mengartikannya.
"Kalian satu kelas?" tanya Afadhil
"Iyaa satu kelas. Satu organisasi juga makanya sama-sama jadi delegasi." jawab Azwar santai sambil menikmati Mie Ayam asin nya.
"Pacaran?" tanya Kanya tiba-tiba yang membuat Bening tersedak.
Spontan Afadhil akan memberikan minum nya kepada Bening tapi Azwar telah dengan sigap menyodorkan minuman Bening kepada yang empunya.
"Hati-hati. Di kunyah dulu bisa kan kalau makan? Untung itu nggak pedes,"
"Iyaa bawel." kata Bening sambil mengelap mulutnya dengan tisue yang juga disodorkan oleh Azwar.
"Lihat kan? Kita mah gini kaya apa yaa? Kaya Tom and Jerry. Ya kan Bee,"
"Kamu tikus nya mas." kata Bening yang disambut tawa oleh semua nya.
#byBee
"Jangan kau sentuh kepala seorang wanita bila kau tidak berniat untuk melindungi dan menjaga hatinya. Terlebih jika kau hanya berniat untuk menggoda"
☆☆☆
Bening dan Azwar berputar keliling kecamatan mencari tempat foto copy an yang bisa menjilid namun belom ketemu. Maklum kecamatan yang mereka tempatin masih tergolong berada di plosok kabupaten hingga fasilitas pun belum memadai. Terlebih akibat bencana tanah longsor yang terjadi telah melumpuhkan perekonomian warga di kecamatan ini karena hampir separoh kecamatan terjadi longsor.
"Bee kayaknya yang disebelah kiri itu gede deh. Coba gih kamu turun." kata Azwar yang kemudian di sambut Bening dengan bergegas menghampiri toko yang ditunjuk.
Tak lama kemudian setelah bertanya kepada penjaga toko, Bening memberi isyarat tangan kepada Azwar untuk menghampirinya.
Tampaknya toko yang terbilang cukup luas itu komplit karna bisa menerima jasa ketik, copy, print dan juga jilid. Azwar dan Bening pun menunggu berkas mereka di kerjakan penjaga toko.
"Bee...." panggilan Azwar memecah keheningan
"Heem...."
"Kamu kurusan. Nggak betah?" tanya Azwar dengan menatap Bening. Sedangkan yang di tatap tampak ragu untuk menjawab.
Bening membuang muka. Demi untuk menghindari tatapan Azwar yang masih mampu menembus hatinya.
"Jangan-jangan kamu ndak dikasih makan ya? Atau kamu kurus karena makin tambah tua terus ketularan keriput kaya nenek-nenek yang di panti. Bahaha." Azwar melempar canda karna tahu Bening enggan berterus terang padanya.
"Apaan sih mas. Nggak lucu ya." Bening memanyunkan bibirnya yang justru disambut gelak tawa oleh Azwar.
"Lah makanya kalau ditanya itu ngejawab Bee biar ndak di buat becandaan. Lagian aku tanyanya serius loh,"
"Betah mas. Aku betah...." Bening tampak ragu dengan jawabannya.
"Tapi...?" Azwar memancing Bening agar mau terbuka.
"Makan olahan tahu mulu. Kan mana bisa aku makan." dengan malu Bening menjawab.
"Bahaha... kasihan di kost makan tahu disini pun dikasih tahu. Kan bisa kamu masak Bee,"
"Bisa sih bisa tapi sungkan yaa kalau tiap hari masak sendiri. Nggak enak sama yang lain nya,"
"Nah berarti bener kan aku ngajak kamu keluar cari makan. Gitu tadi sok nolak diajak." cibir Azwar
"Ish kalau ndak ikhlas tadi ngak usah ngajak,"
"Eleh eleh jangan ditekuk gitu muka nya. Kan becanda aku. Suka liat kamu ngambek. Maaf yaa." Azwar mengacak rambut Bening yang tertutup hijab.
Pergerakan yang tak di perhitungkan oleh Bening itu berhasil membuatnya terpaku sejenak.
Selepas kesadaran nya kembali Bening menampik tangan Azwar.
"Sopan mas. Ish,"
"Iyaa non...." Azwar tersenyum-senyum melihat rona wajah Bening.
Hening
Saat Azwar dan Bening sibuk dengan fikirannya masing-masing, penjaga foto copy menyerahkan hasil jilidan kepada mereka.
"Cari makan dimana?"
"Terserah aku ngikut,"
"Lah kok terserah? Makan tahu mau?"
"Nggak niat ngajak makan?"
"Jangan ngambekan kenapa non. Makanya milih mau makan apa dan dimana. Aku yang traktir,"
"Kan udah bilang tadi. Terserah kamu mas. Aku disini ndak pernah keluar makanya nggak tau apa yang enak dan dimana nya." Bening tampak gregetan sama sikap Azwar.
"Ho ho pantesan kurusan. Ndak pernah refreshing sih." Goda Azwar yang disambut decak malas Bening.
"Cepet naik ntar aku ajak makan yang bisa bikin kamu gemuk." Bening hanya menurut. Ingin protes dengan kata-kata Azwar tapi percuma karna mereka memang selalu seperti itu. Debat tanpa henti.
Hingga rasa yang masing-masing miliki seakan sama sekali tak ada. Terkubur dengan menyisakan goresan-goresan kenangan yang tak luput dari luka.
☆☆☆
Tak berapa lama Azwar dan Bening telah sampai di sebuah kedai Mie Ayam dan Bakso yang terbilang cukup besar dan bersih.
Bening langsung mencari tempat duduk yang berdekatan dengan kipas angin. Ngadem.
"Loh Bening disini juga?" suara seseorang mengejutkan Bening. Kanya.
"Ehh kak. Iyaa,"
"Gabung yaa duduknya. Aku ngincar kipas angin juga. Hehe," kata Anya sambil duduk di kursi yang ada di depan Bening. Kemudian Kanya melambaikan tangan kepada seseorang yang tak lain adalah Afadhil mengisyaratkan bahwa dia duduk disana.
Sekilas Afadhil terkejut melihat Bening lalu tersenyum lebar karna orang yang akhir-akhir ini cukup menyita perhatiannya itu ada disana.
"Loh Bening kok disini? Ngapain? Tadi Kakak ajak ngak mau." Kanya menggeser duduknya hingga kini Afadhil lah yang duduk tepat di depan Bening.
"Hee iyaa kak tadi jilid laporan jadi sekalian makan siang,"
"Sam...." belom sempat Afadhil bertanya, Azwar yang tadi memesankan pesanan pun duduk menghampiri.
"Bee. Flashdisk ku ada di kamu nggak?"
"Nggak ada kan tadi kamu yang bawa mas,"
"Nggak ada di tas ku. Baru inget ini." Azwar sedikit panik.
"Paling ketinggalan di tempat print tadi. Nanti ambil habis makan. Apa mau diambil sekarang?"
"Ntar aja deh habis makan sekalian." Azwar tersadar bahwa ada orang lain di tempat itu. Dua orang yang dia tahu satu pos dengan Bening.
"Ehh kak maaf tadi ndak liat. Hee." Azwar mengulurkan tangan berjabat tangan dengan Afadhil dan juga Kanya sambil diiringi senyum khas nya.
"Santai aja. Jadi kalian kesini nya bareng?" tanya Kanya.
"Iyaa kak." Bening menjawab sambil melempar senyum pada Kanya.
"Pantes tadi di ajak bareng nggak mau ternyata udah janjian." kata Afadhil menggoda meski hati nya ada yang terbakar.
"Nggak janjian kok kak. Aku culik dia tadi di pos." Azwar melempar canda tepat saat pelayan menyodorkan pesanan mereka berempat.
PLAK!
"Awww. Apaan sih mas." Bening menatap heran ke arah Azwar yang menampik tangan nya saat akan mengambil sambal ke tiga kalinya.
"Tadi udah ambil kan? Ngirit!" dengan santainya Azwar menjauhkan mangkuk sambel dari jangkauan Bening.
"Baru dua, satu lagi." Bening meminta kepada Azwar persis seperti anak kecil meminta permen. Namun dicuekin oleh Azwar. Bening hanya manyun kesal mengaduk Mie Ayam nya.
Kanya senyum-senyum menyaksikan tingkah Azwar dan Bening. Dimatanya, itu romantis.
Lain dengan Afadhil yang justru sibuk menebak hubungan apa yang terjalin antara Azwar dengan Bening.
"Nggak usah manyun. Makan yang bener biar nggak makin kurus,"
"Biarin." tampak Bening masih kesal dengan sikap Azwar.
"Bee bisa tolong siniin garamnya?"
Bening hanya melirik garam yang tepat ada di sampingnya.
"Bee...."
Tanpa ba bi bu Bening menaruh dua sendok garam di mangkuk Azwar sambil tertawa.
"Allahuakbar Bee... aku mau makan Mie Ayam loh bukan ikan asin." Azwar tampak kesal dengan sikap Bening.
"Salah sendiri usil duluan tadi,"
"Okey fine. Maaf yaa Bee." Azwar mengalah dengan meminta maaf kepada Bening. Sadar kalau memang sedari tadi dia yang memulai. Tangan Azwar refleks akan mengusap kepala Bening persis seperti apa yang selalu dia lakukan. Tapi kali ini Bening telah memprediksi gerakan itu dan menampiknya pelan.
'Bee....'
Afadhil baru sadar atas panggilan ini. Azwar memiliki panggilan khusus kepada Bening. Ahh apa jangan-jangan...
Entahlah Afadhil belom mau mengartikannya.
"Kalian satu kelas?" tanya Afadhil
"Iyaa satu kelas. Satu organisasi juga makanya sama-sama jadi delegasi." jawab Azwar santai sambil menikmati Mie Ayam asin nya.
"Pacaran?" tanya Kanya tiba-tiba yang membuat Bening tersedak.
Spontan Afadhil akan memberikan minum nya kepada Bening tapi Azwar telah dengan sigap menyodorkan minuman Bening kepada yang empunya.
"Hati-hati. Di kunyah dulu bisa kan kalau makan? Untung itu nggak pedes,"
"Iyaa bawel." kata Bening sambil mengelap mulutnya dengan tisue yang juga disodorkan oleh Azwar.
"Lihat kan? Kita mah gini kaya apa yaa? Kaya Tom and Jerry. Ya kan Bee,"
"Kamu tikus nya mas." kata Bening yang disambut tawa oleh semua nya.
#byBee
Komentar