Rindu Yang Terdiam #1

By. Oktavia Hani

#ALARM

"Terbiasa bisa membuatmu jatuh pada kenyamanan."

☆☆☆

Pagi yang dingin, sinar mentari pun belum menyapa bumi. Namun kokok ayam sudah bersahutan beriringan dengan suara adzan.

_Kluk_
Suara notif berbunyi.

'Subuh subuh. Ayo ah solat' bunyi pesan wa tersebut.

'Iyaa. Ini udah bangun. Makasih'

Setelah membalas pesan tersebut dengan sekuat tenaga Bening mengumpulkan nyawanya untuk siap tempur dengan dingin nya hawa pedesaan.
Dia bukan gadis kota justru kampung nya lebih dingin dari hawa di kampung yang sedang ia tinggali sekarang. Hanya saja bertahun kuliah di kota yang bersuhu panas membuat Bening sedikit kalah dengan udara dingin.

Setelah sukses mengumpulkan nyawa, Bening perlahan menyibak selimutnya dan keluar dari kamar dengan tak lupa mengenakan jilbab instan. Pelan. Agar teman-teman sekamar nya tak terusik.

Bening melangkahkan kaki nya ke kamar mandi. Bukan sekedar untuk mengambil wudhu tapi juga untuk mandi bebek.
Mandi bebek? Iyaa karena dia tipe gadis yang mandi super kilat tak sampai 10 menit segala ritual kamar mandi sudah selesai ia tunaikan.
Aneh memang. Ketika kebanyakan wanita di luaran sana memakan waktu hampir 30 menit untuk ritual kamar mandi sedangkan Bening justru tak betah berlama-lama di kamar mandi. Alasannya cuman sepele.

'Memang mau ngapain aja?'

Selesai dengan ritualnya, Bening bergegas masuk ke ruang solat yang letaknya tepat di samping kamar mandi.

"Yang lain belom bangun?"

"Belom. Ada yang lagi ndak solat. Ada yang pules banget ndak tega bangunin. Kecapean," Jawab Bening sembari memakai mukena.

"Udah?"

"He'em," setelah mendengar jawaban dari Bening sang imam pun mengucapkan takbir.

Afadhil.

Lelaki yang menjadi imam itu adalah Afadhil. Dia jugalah yang sebulan terakhir rajin membangunkan Bening untuk solat sunah dan juga solat subuh.

Jika pesan nya tak di balas, Afadhil pun tidak sungkan untuk menelpon Bening agar gadis itu terjaga dari mimpi nya. Sebenarnya bukan hanya pada Bening ritual ini dia lakukan. Hanya saja lebih sering gadis ini lah yang dia bangunkan.

Selesai solat berjamaah. Baik Afadhil maupun Bening masing-masing membaca al-quran dan setelahnya merapalkan doa yang di kemudian hari mereka akan mempertanyakan tentang isi dari doa-doa yang di panjatkan.

☆☆☆

"Masak apa?"
"Bikin nasi goreng kak, soalnya belom belanja," Jawab Bening yang sibuk meracik bumbu.

"Lah ibu kemana?"

"Ibu diantar belanja sama Mas Afrid," Ibu yang mereka maksud adalah pengurus panti yang mereka tempati sebulan ini.

Iyaa. Afadil, Bening dan ke 15 teman mereka adalah salah satu relawan yang di tugaskan untuk memberikan motivasi keagamaan bagi lansia pasca terjadinya bencana tanah longsor beberapa bulan yang lalu.

Para lansia korban bencana yang sudah tak memiliki kerabat atau pun yang kerabatnya belum mampu bangkit perekonomiannya di tampung terlebih dahulu di panti ini. Panti asuhan ibu Widjakmoko ini menampung 30 lansia yang seluruh biaya hidup di tanggung oleh ibu Widjakmoko beserta keluarga. Sisanya, jika ada donatur akan tetap mereka terima. Bila pun tidak ada maka tetap di syukuri. Meski harus hidup lebih sederhana. Lagi.

Seperti sebulan ini. Salah satu perusahaan besar di bidang jasa mengadakan bakti sosial yang relawannya sejumlah 11 orang diambil dari universitas dan 5 orang terdiri dari pegawai terpilih dari perusahaan tersebut. Afadhil salah satunya, sedangkan Bening adalah salah satu perwakilan dari sebuah universitas negeri.

"Jangan kebanyakan cabe nya ntar kepedesan," tegur Afadhil yang melihat Bening semangat memotong cabai.

"Oh iya lupa kakak kan ndak suka pedes ya. Hee maaf," Bening tersenyum menyadari fakta bahwa dia pernah membuat pria di depan nya ini nangis kepedesan gara-gara masakannya.

"Ngeledek," Afadhil berdecak melihat Bening mengulum senyum.

"Ya masa pedes dikit aja kakak nambah kecap sih,"

"Kan biar kakak manis," Sahut Afadhil sambil memainkan alis nya yang disambut derai tawa oleh Bening.

Saat mereka asyik bercengkrama, seseorang sempat memperhatikan mereka sebentar dan langsung masuk ke kamar mandi yang letaknya disamping dapur.

"Menurut kamu gimana?" Tanya Afadhil dengan nada serius.

"Gimana apanya?"

"Itu..." Afadhil menunjuk kamar mandi dengan ekor matanya.

"Kak Kanya maksudnya?" Bening memastikan, tampak masih bingung dengan apa yang dimaksud Afadhil.

"Cocok nggak sama kakak?"

"Cocok sih," jawab Bening

"Kok pakai sih?"

"Lah mau pakai apa? Mau tambahan telor dadar?" Bening becanda yang di iringi tawa kedua nya.

"Kalau jodoh yang nggak cocok pun tiba-tiba jadi terasa cocok dan pas kak." Kata Bening dengan nada serius.

"Jodoh?"

"Iyaa jodoh"

"Kamu aja yuh yang jadi jodoh kakak," Afadhil memainkan alis meski mimik wajahnya tampak sungguh-sungguh.

Entah ini becanda atau seperti wajah nya saat ini. Serius.

Bening hanya mampu tertawa menanggapi nya sembari berpaling menyembunyikan rona wajah-nya.


#byBee

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin Akan Kuceritakan #2

Rindu Yang Terdiam #3