Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Lale #Hard

Berat... 26 tahun terjatuh, dan berkelililing dengan luka dan sebab yang sama. Berat, tapi aku bisa apa? Mungkin satu di antara kamu yang membaca tulisan ini pernah berfikir sama denganku. Lelah dan amat lelah yang harus menyerah. Di antara seluruh kebingungan, aku tahu bahwa sebentar lagi akan kembali terjebak pada lubang yang aku gali sendiri. Iyaa benar, semua terjadi karena aku yang membawanya naik, menggalinya, dan menggali lagi. Tetapi, bolehkah aku berharap? Berharap untuk tetap kuat dan tangguh. Karena aku yakin bisa lebih kuat dari hari ini. Jadi kamu? Aku yakin kamu juga lebih kuat dan lebih mampu, lebih dari yang kamu bayangkan. #byBee

Lale

 Hei... IM back. Biarkan aku perkenalkan dia, lale. Nama yang aku ambil dari sebuah tulisan. Tulisan seseorang yang belum pernah aku temui namun tulisannya, dan nasehatnya berkali-kali menyelamatkanku.  Beliau seorang yang sudah kembali pada-Nya. Orang baik itu menyelamatkanku. Lale adalah nama turki dari bunga tulip. Bunga asli Turki yang bisa tumbuh berkembang jauh lebih baik di tempat barunya, Belanda. Aku ingin menjadi seperti itu, tumbuh dengan baik, dan indah di manapun aku berada. Maka itu alasanku amat mencintai, lale. Mencintai, tulip. Hidupku sedang tak baik. Mungkin bukan sedang tak baik tapi belum menjadi baik. Karena aku terbiasa hidup dengan situasi tak baik. Tahun 2013 aku memulai blog ini untuk berbicara dengan diriku, untuk bersandar pada diriku. Kali ini aku kembali, untuk bersandar lagi pada diriku. Aku tidak berencana menganggap hidupku lebih sulit dari hidup orang lain. Karena aku tidak bisa egois dan tidak ingin tampak lebih menderita. Hanya saja di sini ...

EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Pantulan Dirimu

"Cobalah untuk memberi dirimu kepercayaan. Setelah itu kamu akan merasakan betapa bahagianya dirimu." Oktavia Hani Hari ini kamu menatap cermin, melihat pantulan dirimu yang menyedihkan. Mata sayu itu tampak menambah gambaran layunya dirimu. "Kamu kenapa?" Tanya itu kamu tujukan untuk dirimu. Dirimu yang kini tampak tak yakin pada hatimu. Hatimu yang seketika memandang dirimu dengan menyedihkan. Hatimu yang mengecil, dan menatap dunia dengan pilu. "Kamu kenapa?" Kamu terus bertanya. Padahal kamu jelas sangat tahu jawabannya. Hanya saja, kamu bimbang harus berbuat apa. Atau lebih tepatnya, kamu bingung bagaimana cara memulainya. Bagaimana cara untuk memulai mendengarkan hatimu, juga dirimu secara bersamaan dan seimbang. Aku menatapmu dari tadi, dari pinggir kasurmu. Aku juga melihat jejak-jejak air mata di bantal tidurmu. Kau tahu? Aku adalah jiwa dari tubuh yang juga pernah ada di posisimu. Meratapi hal yang terasa berat, sekaligus tampak remeh. Hal yang m...

EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Religiously Speaking

"Jangan cemas, bentangkan sajadahmu. Kau akan temukan damaimu dalam sujud." Oktavia Hani Hari ini aku melihatmu duduk dengan gusar. Sesekali kau tatap ponsel. Kemudian kau tautkan tangan. Gelisah. Ternyata seseorang dari masa lalumu ingin kembali. Kau bimbang. Antara sakit hati dan juga masih sayang. Bulan sudah berubah menjadi tahun. Telah selama itu kau berjuang menyembuhkan luka, bertahan hidup dengan sisa cinta yang menyakitkan. Lalu di tengah perjuangan panjang itu, saat kau masih terus kesakitan, dia datang meminta kesempatan. Mengiba, dan memaksa masuk dengan membentangkan cerita lama, kisah kalian yang bahagia bersama. Hei, bolehkah aku juga bercerita? Kisahku tak jauh berbeda darimu. Menyayangi, mencintai, dan menaruh harap. Aku pernah melalui fase itu. Bedanya kau dan si dia pernah berikrar untuk merajut kisah bersama, menyusuri hari-hari berdua dengan tawa. Meski ujungnya dia diam-diam menemui wanita lain, merajut kisah di belakangmu. Aku tidak melangkah sejauh itu...

EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Pilihan

"Di dunia ini ada hal-hal yang tidak layak dijadikan bahan perlombaan. Karena takdir adalah garisnya." Oktavia Hani Hari ini kamu sedang duduk di atas kasur nyamanmu. Semakin nyaman saat selimut juga melingkupimu. Akan tetapi, pikiranmu melayang jauh. Menerawang. Mengulas waktu saat seseorang mendekatimu. Sebut saja mereka dengan a, b, dan c. Orang dengan raga dan jiwa yang berbeda. Orang yang mendapatkan perlakuan sama darimu. Menjauh. Bahkan suatu hari kamu rela serching di google, atau mengambil foto orang lain di facebook. Bukan fotomu. Juga bukan foto gadis cantik yang bisa kamu pakai sebagai foto profilmu. Bukan. Kamu mengambil foto seorang lelaki, berpeci, bersarung, dan sedang tersenyum ke arah kamera. Lalu, foto itu kamu pasang di sebuah status aplikasi pesan. Tentu dengan filter setting pengiriman pesan untuk si a. Tujuanmu tak lain hanya ingin membuatnya menjauhimu. "Untuk apa menunggu ia yang tidak pasti?" Suatu hari begitulah yang kamu tulis di story se...

EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Yang Kamu Sajikan

"Tidak perlu marah ataupun larut dalam harapan orang lain untuk dirimu. Mereka sebatas merespon apa yang kamu suguhkan. Sesuatu yang hanya tampak dari permukaan." Oktavia Hani Kehidupan yang kita jalani tidak akan lepas dari waktu. Waktu yang terus bergulir membawa kita pada pertambahan usia. Sudahkah kamu memasuki usia rawan? Kata orang 25 tahun adalah usia-usia yang pas untuk menikah, sekaligus rawan. Maka saat kamu ada dalam fase usia 25 tahun dan belum menikah, bersiaplah untuk mulai dipandang berbeda. Bahkan tiap gerak-gerikmu tak luput dari pengawasan orang. Tidak penting bukan? Aku ada di fase ini kawan. Berjalan seorang diri dipandang aneh. Satu dua orang mulai menanyakan kriteria idaman, menanyakan tentang kapan, dan tak jarang becanda menjodoh-jodohkan. Aku ikut becanda dan tak lupa tertawa untuk menanggapi celotehan yang makin lama mirip paduan suara. Memang bukan perkara mudah untuk terlihat baik-baik saja. Tapi akan konyol jika pasrah dan tampak rapuh dengan semp...

EXPOSURE ( Ketika Aku Mencintai Diriku) #Tak Selalu Benar

"Penilaian orang lain memang terkadang tak wajar. Akan tetapi, semakin tak wajar jika kau tak mau mencoba untuk memfilternya." Oktavia Hani Sudah hari ke tiga belas aku membagikan cerita, bukan? Aku tahu pasti, ceritaku tak indah. Tetapi harapku masih sama. Kau mau mengambil hikmahnya. Sama juga dengan kehidupan. Tiap langkah yang kau lalui, tak akan luput dari polusi suara dari sekitar. Tentu kau tidak perlu mendengarkan, meyakini, apalagi membenarkan. Untuk omongan yang tidak ada kebaikan bagi dirimu, tentunya. Akan tetapi, kau ataupun mereka hanyalah manusia. Kau pun sama, tak selalu benar. Saat hidup terasa semakin berat, pekerjaan yang tak kunjung habis terselesaikan, kisah romansa yang tak segera menemukan ujung yang baik, juga penilaian orang yang memaksa kau untuk mendengar. Semua itu membuatmu penat, bukan? Perlahan tapi pasti, saat kau mulai abai pada dirimu, dan lebih mendengarkan omongan orang sekitar. Mungkin, kau bisa tampak indah dari luar. Terutama dalam kacam...

EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Semoga

"Tidak ada yang namanya terlalu banyak semoga. Karena semoga adalah kata lain dari harapan, jadi jangan menjadi kejam dengan mematahkan semoga itu." Oktavia Hani Semoga adalah kata yang lazim terucap sebagai wujud pendamping dari harapan. Beberapa orang kerap meragukan kata semoga, membenci kata semoga yang terselip dalam doa. Beberapa orang meminta untuk berhenti melafalkan kata semoga. Katanya, semoga adalah wujud ketidak yakinan diri. Padahal kita sama-sama tahu juga, jika kita hanya boleh berencana, dan berusaha. Sedangkan, untuk terwujud atau tidaknya sudah menjadi kuasa Ilahi. Ketika orang lain seakan bersatu untuk meremehkan, kata semoga adalah penolong hebat untuk memberi kita harapan. Bersama semoga, kita tahu bahwa harapan itu ada, masa depan bisa kita rencanakan, dan bertahan adalah hal yang perlu kita lakukan. Kita tidak bisa hidup tanpa polusi suara dari orang lain. Bahkan, untuk tidak mendengarkanya menjadi tampak mustahil. Karena sekeras apapun kita tekankan ta...

EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Versi Masing-Masing

"Jangan terlalu sering merasa kalah. Cobalah untuk memberi dirimu apresiasi, meski dia sedang sangat patah." Oktavia Hani Kehidupan yang kita jalani, pasti memiliki versinya masing-masing. Gendre yang mungkin sedikit sama, tetapi pasti cara melaluinya, rasa yang dirasakan, dan tuntutanya pasti berbeda. Jika kita menyadari fakta tersebut, maka tidak seharusnya menyamakan jalan orang lain dengan jalan kita. Menilai mereka salah, ataupun menyatakan diri sendiri kalah. Kau atupun aku. Kita memiliki kaki, tangan, dan kepala dalam tubuh yang kita sebut raga. Namanya sama namun kekuatanya, pasti berbeda. Pernah menangis saat si dia mampu meraih ini dan itu, sedangkan kamu masih saja hidup stagnan di situ? Aku pernah! Merasa kalah dari si dia, sedangkan bertanding saja jelas tidak. Lucu bukan? Tapi santai, aku tidak iri dalam versi jeleknya. Tidak merasa harus mengalahkannya, tetapi justru aku ingin mengalahkan diriku. Iya, mengalahkan diriku yang auto insecure saat orang lain mend...

EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Kehilangan

"Hakikatnya ketika kamu kehilangan, itu bukan karena kamu melepaskan. Namun sejak awal memang kamu tidak ditakdirkan untuk memilikinya. Jadi, lucu saat kamu tidak bisa mengikhlaskan." Oktavia Hani Kehilangan adalah sebuah rasa yang di dalamnya pasti terselip rasa sakit, menderita, juga air mata. Aku bertemu banyak orang yang sedang dalam fase kehilangan. Aku tidak pernah berpikir, bahwa kehilangan adalah sesuatu yang mudah untuk dihadapi, ataupun mudah untuk diterima. Faktanya, aku menjadi saksi saat-saat orang yang aku kenal mencoba melepaskan, akhirnya kehilanganlah yang ia dapatkan. Iya, bagiku melepaskan itu tahap awal dari sebuah kehilangan. Ketika telah berani untuk melepaskan, maka sampailah pada pertemuan dengan kehilangan. Hampa, sakit, pilu, dan derita yang bergumul menjadi satu. Itulah dampaknya. Bagiku, kehilangan bukan fase yang mudah untuk dihadapi, dilalui, bahkan dilupakan. Tersiksa adalah wujud nyata dari percobaan kita untuk melupakan bahwa telah kehilangan...

EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Terhapus

"Tidak selamanya kamu tak berharga. Tidak dalam setiap sisi kamu tak terlihat. Hanya saja kamu perlu menghargai dirimu dahulu, untuk mampu merasakannya." Oktavia Hani Menutup diri, dan mengusir kehadiran orang lain adalah hal yang kerap aku lakukan. Sudah pernah aku tuliskan bukan? Aku amat paham perilakuku tersebut. Hingga merasa diri tidak tampak, mengakui tidak mudah diingat adalah kesadaranku. Pribadiku yang tidak menarik, pembawaanku yang pendiam bahkan mungkin pada beberapa kesempatan dinilai ketus. Membuatku tahu bahwa aku makhluk yang disebut manusia ala kadarnya. Tidak memiliki banyak teman, sedikit kenalan, bahkan miskin relasi sepertinya deskripsi yang tepat untuk menggambarkan diriku. Iya, kamu benar. Aku selalu merasa tidak berharga untuk orang lain. Merasa kehadiranku tidak penting. Penggambaranku tentang diriku sendirilah yang akhirnya membuatku cuek tentang penilaian orang lain, terhadap diriku. Tetapi aku anggap doktrin cuekku inilah yang menolongku, untuk te...