Mungkin Akan Kuceritakan

#Mungkin_Akan_Aku_Ceritakan
#byBee

"Apa pendapatmu tentang dia, Bee?" Sepasang mata teduh itu menatap lekat gadis yang ada di depannya. Berharap banyak pada jawaban yang akan keluar dari bibir gadis yang tidak lelah untuk tersenyum itu. Bee, panggilan yang dia sematkan untuk gadis pemilik binar mata yang terkadang sulit untuk dia artikan.

Sudah cukup banyak gadis yang Afa perkenalkan pada Bee. Lebih tepatnya menceritakan, sebab memang tidak secara langsung Afa memperkenalkan mereka pada Bee.

Mereka? Iyaa, mereka. Sebenarnya tidak ada satu pun dari gadis-gadis itu yang menjadi kekasih Afa. Atau bisa di bilang sebatas daftar gadis-gadis yang mencuri perhatiannya.

"Kamu tahu A'? Jika hatimu sudah menetapkan pilihan maka tidak butuh alasan untuk menguatkan atau mengendorkannya. Lantas, mengapa kamu bertanya pendapatku?" Afa menatap lekat sepasang mata itu. Mencoba kembali menebak arti tatapan dan juga ucapannya. Tapi lagi-lagi dia tidak menemukan apapun di sana.

"Kamu tahu? Aku butuh kamu untuk menguatkannya. Bukankah begitulah semestinya dalam persahabatan?" Mata yang selalu membuatnya hampir frustasi karena tidak bisa membacanya meski sudah ratusan hari dan puluhan kali dia tatap itu mencoba menghindari bertatapan dengannya. Afa tahu apa hal yang membuatnya demikian.

Sahabat! Kata itu lah yang sering dihindari oleh Bee. Iyaa, Bee hanya menghindarinya bukan membenci persahabatan. Setidaknya itu yang Afa yakini. Tetapi, kali ini terpaksa dia menggunakan kata itu untuk memancing reaksi Bee.

"Aa, aku pernah bilang bahwa Aa itu teman terbaik yang Bee miliki. Maka apa pun yang terjadi tetap, percayalah! Bee ada bersama Aa." Bee tersenyum lembut ke arahnya. Senyum yang manis namun Afa pun menangkap sedikit kegetiran di sana. Entah sebab apa. Ataukah karena dia mengungkit lagi tentang sahabat?

Afa menatap sekeliling, berharap menemukan sesuatu yang tepat untuk mengganti topik pembicaraan mereka.

Cukup lama mereka terdiam. Selama itu pula Afa berfikir keras untuk membuat Bee ceria. Tapi nihil karena faktanya Afa tidak menemukan apapun.

"Aa ...." Bee memecah keheningan. Matanya lekat menyusuri jari-jari tangannya yang saling bertautan. Menandakan dia sedang gelisah.

"Hemm ...."

"Bisakah aku memohon satu hal?" Dengan ragu Bee mengatakannya.

"Memohon? Istilah yang kamu gunakan bagiku amat sangat ...,"

"Maaf bila aku berlebihan meminta ini," buru-buru Bee memotong ucapan Afa. "Bolehkah aku mengatakannya?"

"Bukankah kita teman baik? Katakanlah! Kamu tidak perlu memohon untuk meminta sesuatu padaku, Bee." Afa menatap lekat Bee dengan penuh kesungguhan. Berharap Bee akan lebih percaya kehadirannya.

"Terimakasih, aku teramat percaya padamu. Aku bahagia ketika kamu menjagaku. Maka pasti aku pun berharap lebih untuk kebahagiaanmu." Bee menjeda kalimatnya cukup lama, membuat Afa semakin menebak kemana arah perbincangan yang coba Bee giring.

"Aa, berhentilah mencari dan berpindah dari persinggahan satu ke persinggahan yang lain. Bukankah tadi kamu bertanya tentang bagaimana pendapatku mengenai dia?" Kembali Bee memberi jeda ucapannya.

"Jujur aku belum bisa dengan pasti menjawab pertannyaanmu mengenai dia. Tapi sebagai wanita izinkan aku mengatakan ini. Jangan terlalu banyak singgah, karena tidak setiap wanita siap untuk dijadikan persinggahan pun tidak setiap wanita mudah menghapus jejak akibat dari persinggahan itu."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin Akan Kuceritakan #2

Rindu Yang Terdiam #3