Rindu Yang Terdiam #2
#Kedatangan
"Terkadang kamu tidak perlu mencarinya terlalu jauh. Karna dia bisa saja begitu dekat denganmu."
☆☆☆
"Kak, ayo ih anterin,"
"Iyaa anter kemana dari tadi kan cuman ayo anter ayo anter mulu." Jawab Afadhil yang tampak bingung dengan tingkah Kanya
"Ke mini market kak. Mau beli macem-macem kebutuhanku yang habis. Mau kan?" Kanya sedikit memaksa
"Sekarang?"
"Kalau besok kenapa aku harus minta nya sekarang?"
"Iya iya bawel bentar ku ambil kunci dulu."
Saat akan memasuki kamar, Afadhil melewati Bening yang duduk di ruang tengah. Tampak Bening masih asyik baca buku. Memang di saat jam siang seperti ini tak ada kegiatan di panti karena para lansia tengah beristirahat.
"Baca apa sih serius amat." Setelah mengambil kunci, Afadhil duduk di sofa tepat di samping Bening
"Baca buku lah kak, kakak kan juga lihat. He." Bening terpaksa menghentikan aktifitasnya
"Ikut yuk,"
"Kemana?"
"Mini market. Kali aja mau beli sesuatu. Kebetulan Kanya minta anter. Ikut ya." kata Afadhil yang sebenernya tampak seperti meminta
"Ohh. Enggak kak barang-barang aku masih kok,"
"Lah masa kakak pergi sendiri,"
"Loh kok sendiri sih? Tadi kakak kn bilang sama kak Kanya perginya. Gimana sih,"
"Oh iya ya." Afadhil menggaruk kepala yang tak gatal.
Hening
"Mau di beliin apa?" Tawar Afadhil, tampak ia masih berusaha membujuk Bening
"Mmm. Ndak kak masih ada semua kok,"
"Ya udah kakak pergi dulu. Baik-baik di rumah kan yang lain belom pulang,"
"Siipp." Bening melempar senyum kepada Afadil
"Eem Kak."
Afadhil menghentikan langkah dan menoleh ke arah Bening yang tampak ragu-ragu memanggilnya.
"Makasih tawarannya. Hati-hati."
Afadhil tak menjawab hanya bibirnya tersenyum lebih lebar dan mengangguk pasti.
Sedangkan Bening diam-diam memperhatikan Afadhil dan Kanya yang jalan beriringan menuju mobil.
Sebenarnya tadi Bening berniat meminta Afadhil untuk menemaninya ke foto copy an tapi karna melihat Kanya yang tengah merajuk akhirnya urung dia lakukan.
Diam-diam ada rasa aneh yang menelusup di ruang lain hatinya. Cemburu.
Ahh entah apa pastinya, karna terlalu dini untuk menamainya sekarang.
***
"Neng, Neng Bening." panggil Ibu Wi dari ruang tamu. "Ada tamu nih Neng."
"Siapa bu?" Bening keluar dari ruang tengah dengan masih membawa serta novel nya.
"Itu loh Mas-mas Kor yang di panti desa sebelah. Orang nya di teras. Jangan lupa minum sama camilan nya neng,"
"Oh iyaa ibu, makasih ibu." Bening kemudian menuju teras sementara Bu Wi masuk mungkin mengecek para lansia di kamar mereka.
Di teras tampak seorang pria seumuran dengan Bening yang tengah sibuk memainkan ponsel di jemarinya.
"Siang-siang kesini ngapain? Kor lagi ada acara di sebelah." Bening duduk di kursi tepat di depan pria tersebut yang langsung menghentikan kegiatan nya.
"Assalamualaikum." pria itu tampak menggoda Bening yang tadi langsung menegurnya tanpa basa-basi.
"Ehh. Waalaikumsalam." Bening tampak malu karna setelah tadi tahu siapa yang ada di teras seluruh otak nya sibuk merangkai dan menebak yang akhirnya membuatnya gugup.
"Kebiasaan langsung nyerocos udah sebulan bareng nenek-nenek tetep ndak berubah. Ehh jangan-jangan karna keseringan ngobrol sama nenek-nenek." pria itu meledek Bening
"Ish apa an sih Mas. Kamu juga kaya kakek-kakek karna keseringan ngopi bareng kakek-kakek." Bening mencibir sementara pria itu tergelak melihat tingkah Bening.
"Kesini mau ngapain?" Bening kembali bertanya
"Nyari kamu lah non. Mau nyari siapa lagi,"
"Pasti ada mau nya kan?" Bening menatap curiga kepada pria itu.
"Bantuin editin laporanku yaa. Kan kamu ahlinya." pria itu tersenyum penuh permohonan.
"Tuh kan bener. Males ahh kerjain aja sendiri, punyaku aja belom di jilid,"
"Ya mending belom di jilid lah punyaku belom rapih. Rapiin... plis."
Akhirnya Bening mengangguk tanda setuju. Kalah.
Yaa Bening selalu kalah pada pria ini.
Azwar namanya. Teman satu kelas Bening yang kebetulan menjadi ketua koordinasi kelompok relawan yang di tempatkan di desa sebelah.
Seseorang yang selalu sukses membuat Bening kalah. Dan menghempaskannya pada rasa yang entah. Seorang pria yang 3 tahun lebih telah menempati ruang khusus di hatinya.
Setengah jam berlalu dengan berbagai perbincangan tentang laporan yang di buat oleh Azwar. Sesekali Bening cerewet memarahi Azwar yang di nilainya asal menulis. Sedangkan Azwar sesekali menampakkan wajah serius tapi lebih sering menggoda Bening.
"Yess akhirnya kelar juga. Aku mah selalu tahu kalau yang beginian kamu ahlinya." Azwar girang melihat laporannya sudah rapi.
"Nggak usah muji, ujungnya ntar ada maunya lagi,"
"Tepat bener. Kamu kok tahu sih apa yang aku fikirin." Azwar tersenyum jahil.
"Mulai deh. Apa lagi? Pumpung aku masih baik ini." Bening menampakkan raut wajah kesal. Padahal jantungnya berdetak hebat sejak kehadiran Azwar.
"Ke kecamatan yuk. Nyari makan,"
"Ngapain cari makan ke kecamatan. Disini juga ada,"
"Mana? Dari aku dateng aja boro-boro kamu ngasih makan, minum aja kagak,"
"Lagian datang langsung minta tolong. Ya udah aku ambilin camilan dulu." Bening berniat masuk ke dalam
"Nggak usah Bee. Ke kecamatan aja ayo. Lagian katanya tadi laporannya belom di jilid. Kan bisa sekalian."
Tampak Bening berfikir.
"Cepetan non keburu subuh ini,"
"Iya bentar aku ambil tas dulu."
Ragu. Iya Bening ragu atas keputusannya untuk ikut dengan Azwar. Jujur ini pilihan sulit baginya. Satu sisi hatinya ingin sedikit lebih lama lagi bersama Azwar. Namun sudut hatinya yang lain berteriak mengingatkan agar ia tak lagi terjatuh pada pesona pria itu. Karna Bening telah puluhan kali gagal membujuk rasa nya untuk benar-benar menghalau Azwar dari dalam ruang lain di hatinya.
#byBee
"Terkadang kamu tidak perlu mencarinya terlalu jauh. Karna dia bisa saja begitu dekat denganmu."
☆☆☆
"Kak, ayo ih anterin,"
"Iyaa anter kemana dari tadi kan cuman ayo anter ayo anter mulu." Jawab Afadhil yang tampak bingung dengan tingkah Kanya
"Ke mini market kak. Mau beli macem-macem kebutuhanku yang habis. Mau kan?" Kanya sedikit memaksa
"Sekarang?"
"Kalau besok kenapa aku harus minta nya sekarang?"
"Iya iya bawel bentar ku ambil kunci dulu."
Saat akan memasuki kamar, Afadhil melewati Bening yang duduk di ruang tengah. Tampak Bening masih asyik baca buku. Memang di saat jam siang seperti ini tak ada kegiatan di panti karena para lansia tengah beristirahat.
"Baca apa sih serius amat." Setelah mengambil kunci, Afadhil duduk di sofa tepat di samping Bening
"Baca buku lah kak, kakak kan juga lihat. He." Bening terpaksa menghentikan aktifitasnya
"Ikut yuk,"
"Kemana?"
"Mini market. Kali aja mau beli sesuatu. Kebetulan Kanya minta anter. Ikut ya." kata Afadhil yang sebenernya tampak seperti meminta
"Ohh. Enggak kak barang-barang aku masih kok,"
"Lah masa kakak pergi sendiri,"
"Loh kok sendiri sih? Tadi kakak kn bilang sama kak Kanya perginya. Gimana sih,"
"Oh iya ya." Afadhil menggaruk kepala yang tak gatal.
Hening
"Mau di beliin apa?" Tawar Afadhil, tampak ia masih berusaha membujuk Bening
"Mmm. Ndak kak masih ada semua kok,"
"Ya udah kakak pergi dulu. Baik-baik di rumah kan yang lain belom pulang,"
"Siipp." Bening melempar senyum kepada Afadil
"Eem Kak."
Afadhil menghentikan langkah dan menoleh ke arah Bening yang tampak ragu-ragu memanggilnya.
"Makasih tawarannya. Hati-hati."
Afadhil tak menjawab hanya bibirnya tersenyum lebih lebar dan mengangguk pasti.
Sedangkan Bening diam-diam memperhatikan Afadhil dan Kanya yang jalan beriringan menuju mobil.
Sebenarnya tadi Bening berniat meminta Afadhil untuk menemaninya ke foto copy an tapi karna melihat Kanya yang tengah merajuk akhirnya urung dia lakukan.
Diam-diam ada rasa aneh yang menelusup di ruang lain hatinya. Cemburu.
Ahh entah apa pastinya, karna terlalu dini untuk menamainya sekarang.
***
"Neng, Neng Bening." panggil Ibu Wi dari ruang tamu. "Ada tamu nih Neng."
"Siapa bu?" Bening keluar dari ruang tengah dengan masih membawa serta novel nya.
"Itu loh Mas-mas Kor yang di panti desa sebelah. Orang nya di teras. Jangan lupa minum sama camilan nya neng,"
"Oh iyaa ibu, makasih ibu." Bening kemudian menuju teras sementara Bu Wi masuk mungkin mengecek para lansia di kamar mereka.
Di teras tampak seorang pria seumuran dengan Bening yang tengah sibuk memainkan ponsel di jemarinya.
"Siang-siang kesini ngapain? Kor lagi ada acara di sebelah." Bening duduk di kursi tepat di depan pria tersebut yang langsung menghentikan kegiatan nya.
"Assalamualaikum." pria itu tampak menggoda Bening yang tadi langsung menegurnya tanpa basa-basi.
"Ehh. Waalaikumsalam." Bening tampak malu karna setelah tadi tahu siapa yang ada di teras seluruh otak nya sibuk merangkai dan menebak yang akhirnya membuatnya gugup.
"Kebiasaan langsung nyerocos udah sebulan bareng nenek-nenek tetep ndak berubah. Ehh jangan-jangan karna keseringan ngobrol sama nenek-nenek." pria itu meledek Bening
"Ish apa an sih Mas. Kamu juga kaya kakek-kakek karna keseringan ngopi bareng kakek-kakek." Bening mencibir sementara pria itu tergelak melihat tingkah Bening.
"Kesini mau ngapain?" Bening kembali bertanya
"Nyari kamu lah non. Mau nyari siapa lagi,"
"Pasti ada mau nya kan?" Bening menatap curiga kepada pria itu.
"Bantuin editin laporanku yaa. Kan kamu ahlinya." pria itu tersenyum penuh permohonan.
"Tuh kan bener. Males ahh kerjain aja sendiri, punyaku aja belom di jilid,"
"Ya mending belom di jilid lah punyaku belom rapih. Rapiin... plis."
Akhirnya Bening mengangguk tanda setuju. Kalah.
Yaa Bening selalu kalah pada pria ini.
Azwar namanya. Teman satu kelas Bening yang kebetulan menjadi ketua koordinasi kelompok relawan yang di tempatkan di desa sebelah.
Seseorang yang selalu sukses membuat Bening kalah. Dan menghempaskannya pada rasa yang entah. Seorang pria yang 3 tahun lebih telah menempati ruang khusus di hatinya.
Setengah jam berlalu dengan berbagai perbincangan tentang laporan yang di buat oleh Azwar. Sesekali Bening cerewet memarahi Azwar yang di nilainya asal menulis. Sedangkan Azwar sesekali menampakkan wajah serius tapi lebih sering menggoda Bening.
"Yess akhirnya kelar juga. Aku mah selalu tahu kalau yang beginian kamu ahlinya." Azwar girang melihat laporannya sudah rapi.
"Nggak usah muji, ujungnya ntar ada maunya lagi,"
"Tepat bener. Kamu kok tahu sih apa yang aku fikirin." Azwar tersenyum jahil.
"Mulai deh. Apa lagi? Pumpung aku masih baik ini." Bening menampakkan raut wajah kesal. Padahal jantungnya berdetak hebat sejak kehadiran Azwar.
"Ke kecamatan yuk. Nyari makan,"
"Ngapain cari makan ke kecamatan. Disini juga ada,"
"Mana? Dari aku dateng aja boro-boro kamu ngasih makan, minum aja kagak,"
"Lagian datang langsung minta tolong. Ya udah aku ambilin camilan dulu." Bening berniat masuk ke dalam
"Nggak usah Bee. Ke kecamatan aja ayo. Lagian katanya tadi laporannya belom di jilid. Kan bisa sekalian."
Tampak Bening berfikir.
"Cepetan non keburu subuh ini,"
"Iya bentar aku ambil tas dulu."
Ragu. Iya Bening ragu atas keputusannya untuk ikut dengan Azwar. Jujur ini pilihan sulit baginya. Satu sisi hatinya ingin sedikit lebih lama lagi bersama Azwar. Namun sudut hatinya yang lain berteriak mengingatkan agar ia tak lagi terjatuh pada pesona pria itu. Karna Bening telah puluhan kali gagal membujuk rasa nya untuk benar-benar menghalau Azwar dari dalam ruang lain di hatinya.
#byBee
Komentar