Mungkin Akan Kuceritakan #2

#Mungkin_Akan_Aku_Ceritakan
#byBee

"Ass ...," Afa menggantung ucapan salamnya, sebab sepasng matanya menangkap sebuah kejadian yang hampir saja tidak pernah dia dapati.

Selepas pertemuannya empat hari lalu dengan Bee, mereka belum sempat bertemu atau bahkan sekedar berkomunikasi. Maka, sore ini setelah pekerjaannya selesai Afa langsung menuju kontrakan Bee untuk kemudian mengajaknya bergabung menikmati senja bersama.

Tadi, ketika Afa mengetuk pintu depan kontrakan cukup lama tapi Bee tidak kunjung muncul. Afa paham betul kebiasaan Bee di sore hari adalah membaca buku atau sekedar menikmati angin sore di belakang rumah. Akhirnya tanpa menunggu lebih lama lagi, Afa melewati pintu samping untuk mengejutkan Bee.

Sungguh ternyata Afa lah yang akhirnya terkejut ketika dia mendapati Bee tengah terisak pilu.

"Ada apa?" batin Afa bertanya-tanya. Dia masih bersembunyi dibalik tembok rumah. Sedangkan tampak jelas di depan sana Bee yang sedang duduk pada bangku putih. Afa ingat sekali dulu dia lah yang membantu Bee menggotongnya.

Ngilu. Itu lah yang kini hati Afa rasakan. Ketika melihat Bee terisak penuh kepiluan. Tampak sangat jelas berulangkali Bee memukul dadanya dengan cukup keras. Seolah dengan demikian, beban di hatinya akan keluar dari persemayamannya.

Afa tidak lagi mampu untuk menyaksikan gadis itu terpuruk. Dia ingin meringankan sedikit bebannya yang entah itu apa. Namun, kaki yang baru selangkah kedepan itu pun terhenti. Mengingat Bee tidak pernah berbagi cerita pilu dengannya sepanjang tiga tahun kebersamaan mereka maka Afa merasa tidak pantas menemui Bee begitu saja dalam situasi ini.

Akhirnya Afa memutuskan untuk menelfon Bee. Tersambung! Di depan sana, Afa melihat Bee dengan susah payah menghentikan tangisnya, menghapus kasar air matanya, dan menarik nafas berulangkali seolah mencoba menenangkan hatinya.

"Assalamualaikum A'?" suara serak Bee terdengar jelas di telinga Afa.

"Waalaikumsalam Bee. Suaramu kok serak, nangis?" Afa mencoba memancing Bee. Tatapan matanya tidak pernah lepas memperhatikan Bee yang kini tampak gugup.

"Hehe, enggak A'. Ini habis nyemil belum minum." Kilah Bee. Mendengar itu, Afa semakin yakin bahwa Bee sedang tidak ingin berbagi. Sejenak dia merasa keputusannya untuk tidak langsung mendatangi Bee adalah keputusan yang benar.

Coba bayangkan saja jika tadi di tengah rasa khawatir yang menyergapnya, dia langsung menemui Bee? Bisa saja justru akan menambah beban di hati gadis itu. Afa yakin ada saatnya nanti untuk menanyakan hal ini.

Bukankah seseorang yang menyembunyikan sedihnya hanya butuh untuk dirangkul tanpa perlu menerima banyak pertanyaan? Baiklah, Afa akan melakukan itu. Menghiburnya!

"Bee, aku hampir sampai di depan kontrakan kamu ini. Bisa temani cari buku?"

"Cari buku? Emm... Aa kalau sudah sampai duduk aja dulu di teras. Aku siap-siap dulu."

"Okey assalamualaikum," tanpa menunggu jawaban dari Bee, Afa menutup telfonnya dan segera berlari kedepan rumah sebelum Bee mendapatinya bersembunyi di balik tembok samping kontrakannya.

⚘⚘⚘

Menjelang malam simpang lima kota Semarang memang berangsur-angsur dipenuhi banyak orang. Tempat yang berada di jantung kota ini jika siang hari cukup sangat terik. Namun, ketika senja mulai menyapa semilir angin pun ikut serta berbisik. Hingga dijadikan tempat nongkrong sambil menikmati sore dan malam dengan beralaskan rumput oleh pasangan muda-mudi, maupun sebagai tempat me time keluarga.

Saat ditengah tanah lapang duduk berkelompok-kelompok orang yang bercengkrama menikmati kebersamaan bersama orang terkasih, di pinggir-pinggir tanah lapang itu para penyedia sewa menyiapkan sepeda, becak maupun kereta berhiasi lampu-lampu cantik yang menyala. Menambah kesan romantis simpang lima di malam hari.

Di sisi utara, Afa dan Bee jalan beriringan. Tadi mereka cukup lama menghabiskan waktu di toko buku. Maklum, baik Afa maupun Bee sama-sama penggila buku jadi ketika dihadapkan dengan berbagai macam buku, bukannya bosan justru macam terjebak di sebuah surga yang membahagiakan.

Selepas sholat di masjid yang lokasinya tak jauh dari toko buku mereka pun memutuskan untuk menikmati malam di simpang lima yang juga terletak tepat di depan masjid. Tetap! Misi Afa adalah untuk menghibur Bee. Meski dia pun belum tahu apa yang membuat gadis itu sepilu tadi. Namun, dengan melihat dua matanya yang bengkak Afa yakin Bee sudah cukup lama menangis sore tadi.

"Kenapa Aa tidak menanyakannya?" suara yang cukup pelan tapi mampu ditangkap oleh Afa.

Afa menghela nafas sejenak dengan memandangi punggung Bee yang tiba-tiba menghentikan langkahnya tanpa berbalik menatap Afa.

"Tentang?"

"Tentang apa yang mungkin menganggu pikiran Aa sedari tadi."

"Maksudmu tentang mata sembab itu?" Afa berjalan kedepan hingga kini dia berdiri tepat di depan Bee yang menundukkan wajahnya.

Afa lekat menatap Bee yang masih asyik memainkan jari tangannya tanpa menjawab pertanyaan Afa.

"Bee ...,"

"Hemm ...,"

"Kita sudah tiga tahun bareng. Sudah cukup sering Aa melihat wajah sembab itu. Kamu bilang sebab begadang sampai pagi. Apa kali ini pun sama?"

Bee pun mengangkat wajahnya namun tetap menghindari tatapan Afa. Tampak jelas Bee yang sedang mengambil dan membuang nafas berulangkali. Mungkin mencoba meyakinkan diri.

"Aa pernah merasa terhempas berkali-kali bahkan saat belum sempat berdiri dengan kokoh?"

"Pernah! Tapi, bukankah itu yang akan membuat kita menancapkan tongkat lebih dalam dan kuat agar mampu membantu kita kokoh berdiri?"

"Aa yakin tentang itu? Sebab aku tak yakin," Bee menjeda ucapannya. Sambil kemudian berjalan menuju bangku yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Aku rasa, tongkat yang sudah ku tancapkan dengan kokoh tetap tidak mampu menyanggaku. Nyatanya, aku terhempas lagi." Tampak Bee menghapus cepat sudut matanya yang mulai berair. Gerakan itu tertangkap jelas di mata Afa yang kini duduk di sebelahnya.

"Cobalah lagi."

"Maksudnya?"

"Jika kamu masih terus terhempas meski tongkat telah kamu tancapkan dengan kokoh maka, tancapkan lebih dalam lagi. Coba lagi dan lagi sampai tongkat itu mampu kuat membantumu kokoh berdiri."

"Jika ternyata tongkat itu sudah rapuh?"

"Kamu masih bisa berdiri dengan kakimu, tanganmu, dan hatimu. Percayalah! Tidak ada sesuatu yang bisa membuatmu jatuh dan terhempas begitu saja ketika kamu percaya pada dirimu dan hatimu. Juga, Allah."

"Bagaimana bisa? Ketika aku merasa Allah terus mengujiku." Lirih kata yang Bee ucapkan itu sungguh jelas sebagai ungkapan keputus asaan.

"Bisa! Buktinya kamu mampu berjalan sejauh ini meski terhempas berulangkali. Bee, Aa tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi. Tapi percayalah! Allah tidak akan pernah menyakitimu, Dia hanya sedang menguji ketaatanmu. Maka, tetaplah yakin pada-Nya. Masih percaya kan?"

"Insyaallah... selalu!" Bee menganggukkan kepalanya dengan yakin dan tersenyum kearah Afa.

"Bee, bisakah untuk berhenti menangis diam-diam?" Afa menatap lekat Bee. Bee mengernyitkan kening tanda berfikir. Mungkin tak yakin, begitulah yang Afa tangkap.

"Aa tidak bisa memelukmu, tapi setidaknya ada yang siap untuk mendengarkanmu. Kamu pun harus tahu satu hal."

"Apa?"

"Aa tim hore kamu."

"Aa pun harus tahu satu hal."

"Apa itu?"

"Aku percaya itu."

Mereka berdua pun tertawa menyadari bahwa terkadang duka serta suka selalu datang beriringan.

"Ah, tapi aku pun tim hore Aa loh," kata Bee dengan mimik muka yang seolah baru menyadari sesuatu dengan maksud mencandai Afa.

"Iyakah? Syukur alhamdulillah ternyata tebakanku tidak salah." Afa pun meladeni candaan Bee yang membuat mereka berdua tertawa lepas.

Terkadang memang demikian, meski hati tidak bisa selapang yang diharapkan setidaknya tertawa cukup mampu membuka tempat untuk bisa sedikit lebih lega ketika bernafas.

⚘⚘⚘

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu Yang Terdiam #3