Rindu Yang Terdiam #4
#Langkah
"Tentang Rasa. Ia tak pernah salah pun bukanlah sebuah kebodohan. Justru yang layak di salahkan dan dibodohkan adalah ketika kamu tenggelam dalam perasaan itu. Hingga dengan mudahnya sesuatu yang bernama patah hati merajai"
☆☆☆
"Emm. Nggak usah kak, aku masih ada urusan lain. Mau mampir ke pos teman tadi udah janjian soalnya. Ya kan mas?" Bening mengkode Azwar dengan tatapan mata.
"He eh kak kita udah jadian. Ehh maksudnya janjian sama temen. Sekalian ngajak ini bocah jalan-jalan biar ndak makin kurus."
Cittttt
"Awas kak hati-hati." Kanya kaget ketika hampir saja mereka menabrak pejalan kaki untung Afadhil sigap menginjak rem.
"Kakak kenapa sih?" tanya Kanya cemas melihat sepanjang jalan Afadhil banyak terdiam. Tepatnya setelah tadi Bening menolak untuk pulang bareng mereka. Setidaknya itu perubahan raut wajah Afadhil yang Kanya sadari.
Afadhil mengusap wajahnya kasar. Bingung dengan dirinya sendiri.
"Astaghfirullah...."
"Kamu nggak kenapa-napa kan Nya? Maaf kepalaku sedikit sakit tadi." Afadhil tampak menyembunyikan perasaannya dari Kanya.
"Biar aku aja kak yang nyetir kamu bisa istirahat,"
"Nggak apa Nya aku bisa kok. Maaf ya yang tadi."
☆☆☆
"Kenapa tadi pakai kode-kode segala?"
"Hemm. Itu," Bening tampak bingung memilih jawaban.
"Bisa aku tanya?"
"Ta,,, tanya apa?" Bening gugup
"Kamu sebenernya kenapa?"
"Aku? Nggak kenapa-kenapa Mas. Kenapa tanyanya begitu?"
"Udah pindah ke lain hati?" Azwar tampak hati-hati menanyakannya.
"Maksud kamu apaan sih mas? Pindah? Emang awalnya hati aku dimana?" terdapat raut kecewa di wajah Bening.
"Maaf."
Hening
"Bisa minta tolong anterin aku ke pos?" Bening memecah kebisuan yang disambut anggukan kepala oleh Azwar.
Sepanjang perjalanan mereka terdiam hanya sibuk dengan pikiran masing-masing yang pasti tujuannya sama... rasa.
☆☆☆
"Makasih mas,"
"Sama-sama."
Saat Bening hendak berbalik, "Bee,"
"Hem, kenapa mas?" Bening menoleh tanpa menatap mata Azwar.
"Maaf,"
"Untuk?"
"Semuanya,"
"Kita sudah sepakat tentang itu kan? Aku masuk dulu. Hati-hati dijalan. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam." kemudian Bening berbalik dengan senyum tersunging dari bibir keduanya. Meski mereka sama-sama tahu bahwa tidak ada yang sedang baik-baik saja.
"Maaf Bee semua ini salahku,"
☆☆☆
"Mbah,,, Mbah Karsi harus makan yang banyak. Biar kuat. Katanya mau cepet-cepet ke sawah kan?"
"Mbah sudah tua nduk tapi mbah ndak bisa kalau disuruh tidur-tiduran saja.
#byBee
"Tentang Rasa. Ia tak pernah salah pun bukanlah sebuah kebodohan. Justru yang layak di salahkan dan dibodohkan adalah ketika kamu tenggelam dalam perasaan itu. Hingga dengan mudahnya sesuatu yang bernama patah hati merajai"
☆☆☆
"Emm. Nggak usah kak, aku masih ada urusan lain. Mau mampir ke pos teman tadi udah janjian soalnya. Ya kan mas?" Bening mengkode Azwar dengan tatapan mata.
"He eh kak kita udah jadian. Ehh maksudnya janjian sama temen. Sekalian ngajak ini bocah jalan-jalan biar ndak makin kurus."
Cittttt
"Awas kak hati-hati." Kanya kaget ketika hampir saja mereka menabrak pejalan kaki untung Afadhil sigap menginjak rem.
"Kakak kenapa sih?" tanya Kanya cemas melihat sepanjang jalan Afadhil banyak terdiam. Tepatnya setelah tadi Bening menolak untuk pulang bareng mereka. Setidaknya itu perubahan raut wajah Afadhil yang Kanya sadari.
Afadhil mengusap wajahnya kasar. Bingung dengan dirinya sendiri.
"Astaghfirullah...."
"Kamu nggak kenapa-napa kan Nya? Maaf kepalaku sedikit sakit tadi." Afadhil tampak menyembunyikan perasaannya dari Kanya.
"Biar aku aja kak yang nyetir kamu bisa istirahat,"
"Nggak apa Nya aku bisa kok. Maaf ya yang tadi."
☆☆☆
"Kenapa tadi pakai kode-kode segala?"
"Hemm. Itu," Bening tampak bingung memilih jawaban.
"Bisa aku tanya?"
"Ta,,, tanya apa?" Bening gugup
"Kamu sebenernya kenapa?"
"Aku? Nggak kenapa-kenapa Mas. Kenapa tanyanya begitu?"
"Udah pindah ke lain hati?" Azwar tampak hati-hati menanyakannya.
"Maksud kamu apaan sih mas? Pindah? Emang awalnya hati aku dimana?" terdapat raut kecewa di wajah Bening.
"Maaf."
Hening
"Bisa minta tolong anterin aku ke pos?" Bening memecah kebisuan yang disambut anggukan kepala oleh Azwar.
Sepanjang perjalanan mereka terdiam hanya sibuk dengan pikiran masing-masing yang pasti tujuannya sama... rasa.
☆☆☆
"Makasih mas,"
"Sama-sama."
Saat Bening hendak berbalik, "Bee,"
"Hem, kenapa mas?" Bening menoleh tanpa menatap mata Azwar.
"Maaf,"
"Untuk?"
"Semuanya,"
"Kita sudah sepakat tentang itu kan? Aku masuk dulu. Hati-hati dijalan. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam." kemudian Bening berbalik dengan senyum tersunging dari bibir keduanya. Meski mereka sama-sama tahu bahwa tidak ada yang sedang baik-baik saja.
"Maaf Bee semua ini salahku,"
☆☆☆
"Mbah,,, Mbah Karsi harus makan yang banyak. Biar kuat. Katanya mau cepet-cepet ke sawah kan?"
"Mbah sudah tua nduk tapi mbah ndak bisa kalau disuruh tidur-tiduran saja.
#byBee
Komentar