EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Kehilangan
"Hakikatnya ketika kamu kehilangan, itu bukan karena kamu melepaskan. Namun sejak awal memang kamu tidak ditakdirkan untuk memilikinya. Jadi, lucu saat kamu tidak bisa mengikhlaskan." Oktavia Hani
Kehilangan adalah sebuah rasa yang di dalamnya pasti terselip rasa sakit, menderita, juga air mata. Aku bertemu banyak orang yang sedang dalam fase kehilangan.
Aku tidak pernah berpikir, bahwa kehilangan adalah sesuatu yang mudah untuk dihadapi, ataupun mudah untuk diterima. Faktanya, aku menjadi saksi saat-saat orang yang aku kenal mencoba melepaskan, akhirnya kehilanganlah yang ia dapatkan.
Iya, bagiku melepaskan itu tahap awal dari sebuah kehilangan. Ketika telah berani untuk melepaskan, maka sampailah pada pertemuan dengan kehilangan. Hampa, sakit, pilu, dan derita yang bergumul menjadi satu. Itulah dampaknya.
Bagiku, kehilangan bukan fase yang mudah untuk dihadapi, dilalui, bahkan dilupakan. Tersiksa adalah wujud nyata dari percobaan kita untuk melupakan bahwa telah kehilangan sesuatu yang berharga.
Apakah aku pernah kehilangan?
Tentu, pernah. Sebuah kehilangan yang mengantarkanku pada rasa sesal dan seakan berperang melawan diri sendiri.
Andai saat itu, aku berusaha lebih keras lagi.
Seandainya aku, tidak memilih untuk melepaskan.
Andaikan saja, aku cukup berani untuk menahannya.
Seandainya saja, aku berusaha untuk lebih baik lagi.
Serta andai-andai lainnya yang terus menyerang sisi lain dari ketentraman hatiku. Ahh, tidak. Mentalku juga terkikis, sebab penyesalan karena kehilangan.
Mencoba menghibur diri, dengan tertawa lebih keras lagi, justru semakin mengikis sisi lain dari kelembutan hati. Iya, seakan kehilangan membuat tertawa jadi penyebab kerasnya hati. Mati.
Mencoba untuk bersikap biasa saja, justru membuat diri terasa tidak wajar. Akhirnya, bertanya-tanya tentang kewarasan diri. Merasa hidup dengan membohongi diri.
Bahkan, merasa tenang justru menjadi bumerang. Ketika tiba-tiba sadar dan bertanya, "Ini tidak apa-apa, aku bahagia?"
Iyaa, kehilangan adalah fase saat seseorang merasa tidak pantas berdiri sebagai seseorang yang lepas, bebas, dan berharga. Sesuatu yang tak lagi kita miliki memang sudah sepantasnya, hanya untuk kita kenang. Bukan untuk kita ulang lagi, rasa sakitnya. Percayalah, seberapa banyak lagi kamu mengulang, seberapa sering kamu mengingat, rasa sakitnya masih tetap sama. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana kamu memasang filternya. Hingga kehilangan tidak lagi menjadi bumerang.
Melepaskan, dan menerima sebuah kehilangan bukanlah perkara yang mudah. Namun cobalah percaya, bahwa dirimu adalah makhluk yang juga pantas untuk hidup nyaman, dan bahagia.
Apa yang kita lepaskan, sesuatu yang hilang dari kehidupan kita, memang sudah sepantasnya kembali ke tempatnya. Kita hanya perlu menyadari bahwa semua sebatas titipan. Rasa, hati, jiwa, raga, dan kehidupan sudah memiliki tempat kembalinya masing-masing. Aku, kamu, dia, kalian, dan mereka, berharga.
#byBee
Komentar