EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Pilihan

"Di dunia ini ada hal-hal yang tidak layak dijadikan bahan perlombaan. Karena takdir adalah garisnya." Oktavia Hani

Hari ini kamu sedang duduk di atas kasur nyamanmu. Semakin nyaman saat selimut juga melingkupimu. Akan tetapi, pikiranmu melayang jauh. Menerawang.
Mengulas waktu saat seseorang mendekatimu. Sebut saja mereka dengan a, b, dan c.
Orang dengan raga dan jiwa yang berbeda. Orang yang mendapatkan perlakuan sama darimu. Menjauh. Bahkan suatu hari kamu rela serching di google, atau mengambil foto orang lain di facebook. Bukan fotomu. Juga bukan foto gadis cantik yang bisa kamu pakai sebagai foto profilmu. Bukan.
Kamu mengambil foto seorang lelaki, berpeci, bersarung, dan sedang tersenyum ke arah kamera. Lalu, foto itu kamu pasang di sebuah status aplikasi pesan. Tentu dengan filter setting pengiriman pesan untuk si a.
Tujuanmu tak lain hanya ingin membuatnya menjauhimu.
"Untuk apa menunggu ia yang tidak pasti?"
Suatu hari begitulah yang kamu tulis di story sebuah aplikasi pesan. Berharap si b, dan si c paham maksudmu.
Kamu yang sedang bimbang dengan keberadaan mereka dihidupmu, kamu yang tidak ingin salah langkah dengan mempermainkan hatimu sendiri. Kamu ingin seseorang yang memberimu kepastian. Bukan canda tawa, dan perhatian yang hanya sebatas permainan. Kamu tidak ingin menjadi persinggahan.
Lalu apa yang terjadi?
Kata orang, cinta bukan sebatas diperjuangkan. Percuma.
Cinta harus saling memperjuangkan.
Kamu tidak berjuang dengan benar, sekaligus tidak ada yang memperjuangkanmu dengan sungguh-sungguh. Kamu ditinggalkan sendirian.
Seperti yang kamu minta, sama dengan doamu. Meminta kepada Nya agar hanya yang ditakdirkanlah yang ada bersamamu, menemanimu, membersamaimu. Tetapi kamu lupa, bahwa hati masih kamu miliki.
Kamu terluka.
Nyatanya salah satu dari mereka yang kamu harapkan berjuang, tetap memperlakukanmu sama seperti sebelumnya. Tidak mundur, ataupun memperlihatkan niat untuk memperjuangkanmu.
Kamu salah paham.
Perlahan kamu pun pergi, menjauh dari mereka. Hatimu juga tertutup bahkan untuk mereka yang baru saja menyapamu. Kamu tidak ingin main-main.
Tidak ingin mendekat jika tidak ditunjukkan arah pasti dari kedekatan itu.
Akan tetapi suatu hari kamu merasa sepi. Sedikit sesal menyapamu yang kini telah merebahkan badan dan menutup tubuhmu dengan selimut lembut nan hangat.
Kamu ingin dicintai, sekaligus tidak ingin terluka. Sedikit sesal telah mengusir dan tidak memberi kesempatan mengenal pada mereka yang sempat mendekat pun muncul.
Kataku, "Tidak perlu menyesali. Kamu terlalu berharga jika hanya sebatas dijadikan persinggahan."
Bukan karena kamu istimewa. Tetapi Tuhanmu mencintai hamba yang mencoba menjaga, dan mampu menjaga kehormatannya.
Sedangkan kamu?
Ingin dicintai Tuhan-mu, Rabb-mu, Allah-mu.
#byBee

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin Akan Kuceritakan #2

Rindu Yang Terdiam #3