EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Yang Kamu Sajikan
"Tidak perlu marah ataupun larut dalam harapan orang lain untuk dirimu. Mereka sebatas merespon apa yang kamu suguhkan. Sesuatu yang hanya tampak dari permukaan." Oktavia Hani
Kehidupan yang kita jalani tidak akan lepas dari waktu. Waktu yang terus bergulir membawa kita pada pertambahan usia. Sudahkah kamu memasuki usia rawan? Kata orang 25 tahun adalah usia-usia yang pas untuk menikah, sekaligus rawan. Maka saat kamu ada dalam fase usia 25 tahun dan belum menikah, bersiaplah untuk mulai dipandang berbeda. Bahkan tiap gerak-gerikmu tak luput dari pengawasan orang. Tidak penting bukan?
Aku ada di fase ini kawan. Berjalan seorang diri dipandang aneh.
Satu dua orang mulai menanyakan kriteria idaman, menanyakan tentang kapan, dan tak jarang becanda menjodoh-jodohkan. Aku ikut becanda dan tak lupa tertawa untuk menanggapi celotehan yang makin lama mirip paduan suara.
Memang bukan perkara mudah untuk terlihat baik-baik saja. Tapi akan konyol jika pasrah dan tampak rapuh dengan sempurna.
Disenggol dari sisi kanan-kiri-depan-belakang. Seakan tampak mendukung perjalanan kehidupan percintaanku. Tanpa tahu, hati sedang berjuang keras melawan banyaknya godaan. Tersenyum, dan menaggapi gurauan agar tak dinilai kolotan, justru semakin menjadikan perjuangan lebih berat. Berjuang antara agar tidak tergoda, ataupun agar tidak sensitif. Semuanya butuh perjuangan yang tidak gampang.
Menilai memang mudah, semudah mengikis sisi kuat dari dinding hati seseorang. Ada rasa pesimis dibalik senyum yang aku terbitkan. Ada rasa khawatir bersama tawa yang aku gemakan. Berat, tapi aku kuat.
Mereka tidak perlu tahu tentang seberapa lama pendirian itu tumbuh subur, aku rawat, dan aku jaga dengan baik. Bahkan mereka tidak perlu tahu, berapa banyak kehilangan dan berapa kali hati hancur, juga tubuh terkapar saat aku memilih berkiblat pada pendirian.
Pernah merasa menyesal dengan langkah yang kamu ambil?
Aku pernah. Pernah merangkai andai dan berharap si dia kembali.
Andai sediki saja aku mencoba untuk melonggarkan prinsipku.
Andai aku coba untuk menggeser sedikit saja pendirianku.
Faktanya apa yang aku pegang selama ini, pendirian, prinsip adalah segalanya untuk kelangsungan hidupku. Aku nyaman dengan caraku hidup.
Terbiasa ditinggalkan bahkan sebelum menggenggam. Terbiasa melepaskan walau belum sempat merawat kisah. Semua sudah biasa, tidak ada yang menjadi luar biasa.
Aku baik-baik saja.
Aku tidak berniat merobohkannya. Meskipun harus kembali melepaskan, kehilangan, bahkan untuk menjadi penghalang sesuatu yang coba mendekat. Aku tak peduli.
Biar aku yang tahu betapa sulitnya membendung linangan air mata penantian. Biar aku saja yang menjadi saksi, sulitnya menguatkan diri saat pesimis hampir membuatku putus asa. Aku lebih suka mendamba dalam doa. Meski harus bergulat dengan bisingnya penilaian orang sekitar.
Tidak mudah tapi aku baik-baik saja hidup dengan caraku.
Ada yakin yang teguh aku yakini kebenarannya.
#byBee
Komentar