Be My Angel


"Jangan patah-patah, terus semangat, anak baik."

Sebuah pesan masuk, pesan dikirim dari sebuah nama yang berhasil menghentikan suapan pertamaku, siang tadi.

Sesaat, tanganku bergetar. Hatiku, membeku. Tidak lagi ada debaran, memang. Hanya saja, sebatas satu pesannya cukup membuatku mematung tak tahu diri.

Mencoba abai dengan datangnya pesan itu pun, urung aku lakukan. Menepis segala khayal gila, cepat aku realisasikan. Mengutuk pesannya, adalah hal pertama yang aku lakukan.

"Bee, jadilah adikku." Tanyanya, suatu hari.

"Kenapa aku?" Aku, balik bertanya.

"Iya, karena itu kamu." Dia, menghentikan aktifitas mengetiknya. Menatapku.

"Mau punya adik, bentuknya begini?" Aku melempar canda padanya, lebih tepatnya canda untuk mengusir degub jantung, akibat tatapannya.

Dia, tertawa. Membentuk lekung sabit pada matanya. Manis. Belum genap sepuluh detik, tawa itu sudah berhenti. Berubah kembali, menjadi tatap yang selalu berhasil membiusku.

"Kamu, jangan hobi insecure. Kamu itu, istimewa. Cobalah lihat betapa berharganya dirimu." Ujarnya, ditutup dengan satu ketukan pensil di kepalaku.

Hari itu, degubku menggila. Dia, tidak memintaku untuk menjadi kekasihnya, bahkan bukan pula untuk menjadi pendamping hidupnya. Sebatas memintaku untuk menjadi adiknya, cukup membuatku tidak bisa tidur nyenyak beberapa malam. Bahagia.

Hari-hariku kala itu, mungkin adalah saat di mana aku butuh banyak perhatian. Dia, menawarkan hal itu. Perhatian, yang aku dambakan. Aku, sadar diri. Berdiri sebagai seorang gadis yang dipintanya untuk menjadi adik adalah garisku. Namun, hatiku tak ingin begitu saja tunduk, pada logika yang dengan keras aku sadarkan. Hatiku, mengingkinkannya. Bukan sebagai seorang kakak.

"Bangun, anak baik. Tahajud yuk." Aku, terkesiap. Bangun dari tidurku.

Mengamati sekeliling, lalu memeriksa ponselku. Nihil. Tidak ada pesan masuk darinya. Telepon darinya pun tak ada.

Iya, aku bermimpi. Rindu ia yang sepanjang tiga tahun,  rajin membangunkanku di sepertiga malam. Melalui pesan, dan juga telepon yang tidak akan membuat handphoneku berhenti berdering, sebelum aku benar-benar bangun dari tidurku.

Kebiasaannya itu, tanpa sengaja menjadi alarm di alam bawah sadarku. Satu bulan tanpa kehadirannya, rinduku cukup terbayar kala ia datang dalam mimpi dan membuatku terbangun, seperti biasanya, saat ia masih rajin mengontrol aktifitas religiku.

Sudah cukup. Rinduku, tidak boleh hanya ku nikmati dengan membayangkan hadirnya. Aku pun bergegas mengambil air wudhu. Tahajud dengan rajin, seperti kebiasaan yang ia lakukan. Agar menjadi anak baik, sama dengan yang ia harapkan.

Apakah motivasiku salah? Mungkin, iya. Akan tetapi, saat itu aku adalah seorang gadis yang butuh contoh. Anggaplah ia, sebagai ladang percontohanku.

Ponselku, satu bulan ini hampir selalu dalam genggaman. Iya, aku menunggunya. Rindu dan juga khawatir adalah dua perpaduan rasa, yang hampir tak bisa ditahan. Berkali-kali aku mengetik pesan, lalu kemudian aku hapus ulang. Berulang kali juga aku urung memencet tombol hijau, yang aku yakini bisa membuatku mendengar suaranya.

Aku, mempertahankan harga diri ataukah takut ia menyadari perasaanku yang lain? Entahlah.

"Kenapa tidak ditelepon, hemm?" Ponselku jatuh, akibat dari rasa terkejut dengan suara yang tiba-tiba menyapa.

Aku, menoleh. Mimpikah aku?

"Assalamualaikum, kenapa bengong?" Iya, aku tidak bermimpi. Suara itu hadir bersama pemiliknya. Tepat di depanku.

"Waalaikumsalam." Hampir saja suara terbata-bata keluar dari mulutku, untung aku sigap menetralisir degup jantung ini.

Dia tersenyum. Senyum yang masih sama, tetapi rasanya berbeda. Ataukah karena satu bulan tak aku temui senyum itu?

"Kenapa berkaca-kaca?" Tanyanya dengan nada khawatir yang khas dirinya. Dengan cepat aku menggelengkan kepala. Tersenyum.

"Abang, apa kabar?" tanyaku, kemudian.

"Kenapa tidak ditelepon? Aku, menunggu loh." Dia balik bertanya padaku.

"Mana bisa." Cicitku pelan.

"Kenapa tidak bisa?" Matanya menyipit, menelisik.

"Ahh, tidak. Lupakan. Jadi, kemana saja sebulan?"

Menyesal. Iya, hari itu aku menyesal mengajukan tanya padanya. Jawaban yang aku dapatkan menyayat hatiku dengan brutal.

"Abah, sakit. Beliau meminta Abang untuk segera menikah." Jawabnya, tanpa menatapku. Kontras dari apa yang selama ini ia lakukan. Aku, menunggu ia menyelesaikan kisahnya.

"Dia, orang yang sama. Iya, seperti yang kamu pikirkan. Dia, mantan tunangan Abang. Maaf." Lagi, dia tidak menatapku.

"Kenapa minta maaf?" Hati-hati, aku mengajukan tanya.

"Karena ini tidak adil untukmu, maaf." Dia, menjeda kalimatnya.

"Kita sama-sama dewasa, memang Abang tidak mengikatmu dengan status pacaran dan sejenisnya. Tetapi, Abang tidak main-main." Imbuhnya.

Kalimat imbuhan, yang sukses menyambar hatiku. Jadi? Rasaku tidak bertepuk sebelah tangan?

"Abang, menyayangi kamu. Menginginkanmu. Mendekati kamu, perlahan. Abang kira, akan menemukan timing yang tepat untuk memintamu menjadi pendamping hidup. Nyatanya..."

"Bang jangan begini." Aku, memotong ucapannya. Hal yang tidak pernah aku lakukan. Tetapi, aku merasa harus berperan, untuk meringankan bebannya.

"Aku masih ingat, siapa dia dari cerita Abang. Wanita sempurna, yang dipilihkan Abah untuk Abang. Wanita dari garis keturunan yang sama tinggi dengan Abang. Wanita..."

"Tidak ada yang sempurna, sungguh." Ia memotong ucapanku.

"Jangan bicara seperti itu, Bee. Orang lain boleh, tetapi kamu jangan."

Hening merayap. Hatiku patah, mataku panas. Siap menumpahkan air mata. Tetapi, aku harus menahannya. Mencegah agar beban tidak semakin menumpuk di pundaknya.

"Boleh aku bertanya?" Tanyaku hati-hati. Dia, mengangguk. Dengan senyum yang aku yakin, dipaksakan.

"Dia yang tidak jadi membatalkan pertunangan kalian. Ataukah Abang yang sudah kembali memintanya?"

"Setelah Abinya tahu kalau Abah sakit, mungkin mereka mendiskusikan lagi. Kemudian, mereka datang dengan pernyataan itu." Jelasnya.

"Dahulu kalau tidak salah, dia membatalkan karena tidak bisa menunggu terlalu lama. Benar?" Entah apa yang merasukiku, hingga berani menanyakan ini padanya. Ia, mengangguk. Menundukkan kepala.

Aku, mengamatinya. Seakan mencoba merekam segala tentangnya, sebelum ia tak lagi bisa ada di depanku.

Kulihat, dia menarik napas pelan, dan mengembuskannya. Mungkin, mencari ketenangan.

"Dia, masih tidak mau menunggu. Enam bulan lagi, itu waktu yang sanggup dia berikan. Maaf." Tatapannya, sendu. Mataku, mungkin juga seperti matanya. Berkaca-kaca.

Aku menggeleng pelan, "Tidak perlu ada maaf. Abang, tidak bersalah. Dengan dia yang meminta Abang kembali, itu cukup. Bukan Abang yang bersalah."

Hari itu, sesak memenuhi dadaku. Patah, tetapi apa yang bisa aku lakukan?

Dia, memang belum mengiyakan. Tetapi, aku tahu seberapa besar keistimewaan mantan tunangannya itu. Putri dari seorang Kyai, dan juga seorang hafidzah. Sempurna, bukan?

Tiga hari setelah perbincangan kami, badai menerjang hidupnya. Abahnya, meninggal dunia. Abah, adalah seorang panutannya. Aku tahu, tidak mudah melewati hari kehilangan itu.

"Abang harus bagaimana? Abah pergi, sebelum Abang bisa mengabulkan pintanya. Abang harus bagaimana, Bee?" Untuk pertama kali sepanjang aku mengenalnya, tengah malam ia menelponku dengan nada putus asa. Hancur, itu juga aku rasakan.

"Abang, harus bahagia..." Aku menjeda kalimatku, menarik napas pelan. Mencari, kekuatan.

"Terimalah kembali, pilihan Abah. Jika itu bisa melegakan hati Abang, membuat Abang merasa sudah mengabulkan sedikit pinta Abah. Tentu, jika itu membuat Abang bahagia."

"Lalu, kamu?" Cicinya, pelan.

"Aku, adik Abang bukan?" Aku, tertawa sumbang. Ada nyeri yang semakin menjalar. Tetapi, aku tahu harus bertahan.

"Maaf, kamu harus bertemu Abang yang pengecut. Maaf."

"Kenapa Abang akhir-akhir ini hobi meminta maaf, hemm?" Aku, melempar canda padanya.

"Abang pernah berjanji banyak hal, termasuk berjanji menghapus kenangan burukmu tentang pantai. Faktanya, Abang juga kenangan burukmu. Maaf."

"Sungguh, tidak perlu meminta maaf. Selama ini, Abang banyak memberikan kenangan indah dan pelajaran berharga."

"Pelajaran berharga agar tidak lagi termakan rayuan gombal?" Tanyanya sarkas.

"Emmm aku tidak merasa dirayu. Abang tahu aku tidak mudah dirayu bukan?" Lagi, aku melempar canda. Bukan untuk menutup degub jantung, tetapi menutup luka. Berhasil, dia tertawa pelan.

"Bee, tetaplah menjadi Bintang yang bersinar. Berjanjilah untuk berbahagia."

"Aku, tidak bisa berjanji. Hanya akan berjalan sesuai arah takdirNya. Abang juga, berbahagialah. Karena aku juga akan berusaha begitu."

Malam itu, terasa dingin. Aku, melepasnya. Tetapi, aku tak sekuat yang kukira. Mematikan ponsel, adalah cara yang aku harapkan, mampu membantuku tetap waras. Iya, aku menghindari moment hari pernikahannya. Karena Abah meninggal, mungkin hari pernikahannya dipercepat. Mungkin.

Hari berlalu dengan aku yang masih bangun di sepertiga malam. Rutinitas yang seakan membuatku bernostalgia tentang kehadirannya. Enam bulan memang sudah berlalu, sore tadi aku menyalakan kembali ponsel yang cukup lama kumatikan. Hatiku, sudah berdamai. Namun, tentangnya masih tetap melekat di hati.

Pagi hari berikutnya, aku mendapatkan pesan darinya. Sebuah photo pernikahan. Ternyata benar, dia melakukan akad nikah tepat enam bulan, sesuai dengan batas kesanggupan tunangannya menunggu. Ia meminta doaku. Padahal, tanpa ia mintapun enam bulan aku lalui tanpa absen mendoakannya. Untuk kekuatannya, agar ia bahagia.

"Jangan patah-patah, terus semangat, anak baik." Tulisnya di sebuah pesan whatsapp.

"Tentu, terimakasih Bang" Balasku.

"Sama-sama.".

Degub itu memang sudah tidak ada. Tetapi, kenangan tentangnya masih utuh. Cara dia menasehatiku, masih aku ingat. Teguran-tegurannya, masih terpatri jelas. Larangan-larangannya, masih sempurna berada di ingatanku. Iya, dia kenangan berharga. Waktu yang aku lewati bersamanya, adalah guru dalam perjalanan hidupku. Rasa benci memang sempat hadir, kesal pernah melingkupi, tetapi rasa syukur tidak bisa aku ingkari.

Hei, kamu. Berbahagialah, aku bersyukur pernah bertemu denganmu.]

Magelang, 06122020


By. Oktavia Hani

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin Akan Kuceritakan #2

Rindu Yang Terdiam #3