EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Tentang Aku
"Kau tidak perlu menghawatirkan dua puluh lima tahunku. Ketahuilah! Aku menikmatinya dengan berusaha cukup keras tersenyum sopan, saat menemukan ritme nada paduan suara yang sama." Oktavia Hani
Orang lain, jiwa di luar diri kita, tetapi sering berpengaruh dalam proses kehidupan kita. Wajar, sebab manusia memang butuh hidup bersoaislisasi, berdampingan, dan saling menghormati.
Kamu pernah tidak, merasa orang lain terkadang kejam pada dirimu? Bukan kejam, yang rasanya menyakitkan. Tetapi kejam, yang membuat suatu fase, menjadi membosankan. Namun, saat itu juga kamu pun sadar bahwa pada fase inilah, kamu butuh stimulus lebih untuk tertawa. Mungkin, sesuatu yang kamu anggap kejam itulah, yang akhirnya membuatmu tertawa. Jadi pertanyaanku, dirimu ataukah situasi yang sedang kamu tertawakan?
Perihal pasangan hidup, misalnya. Ketika satu per satu orang, mulai menggerogoti hari-harimu dengan pertanyaan tentang kapan dan siapa, mungkin.
Aku, tidak pernah membenci pertanyaan-pertanyaan itu. Bosan, itu yang aku rasakan. Saat kita mencapai angka usia yang kata orang rawan, atau sudah saatnya membangun rumah tangga, tiba-tiba saja orang di sekitar seakan kompak mengajukan tanya yang sama. Sungguh, membosankan.
Benci, dan marah untuk situasi ini bukanlah tanggapan yang tepat. Karena dari apa yang orang sekitar pertanyakan, dari sekian banyak orang yang mempertanyakan, pasti ada doa tulus yang ikut menyertai juga. Doa untuk siapa? Tentu untukku, kamu, mereka, juga kalian.
Pernah merasa sedih tidak, saat pertanyaan-pertanyaan tentang pasangan muncul? Jujur, aku tidak pernah.
Membayangkan tentang hidup berumah tangga, bahkan membayangkan dengan siapa menjalani kehidupan itu, pernah. Namun, untuk merasa sedih saat pertanyaan-pertanyaan umum itu muncul, sungguh tidak pernah.
Normalkah? Aku kerap juga mempertanyakan hal itu. Tentang kenormalan, diriku. Namun, lambat laun, seiring waktu bergulir aku paham alasannya. Alasan mengapa diriku tidak merasa sedih, saat menyadari tentang gabungan pertanyaan kapan menikah, ataupun siapa pasanganku. Alasannya adalah bahwa diriku, masih punya mimpi lain untuk diraih.
Terdengar klise dan tampat tak logis memang. Tetapi, ini fakta.
Pernah cukup terluka, saat sesuatu yang aku inginkan tak sesuai kenyataan. Pernah hancur, saat diri kecewa karena harapan yang tak bisa digapai. Cukup pernah dan tidak sedang ingin mengulang lagi.
Kamu, tidak bisa bangkit atau bagaimana, hemm?
Bukan, tetapi fase ini, di usia 25 tahun yang membuat banyak orang khawatir, aku sedang mendedikasikan diri untuk memeluk diriku, lebih hangat lagi. Menyayanginya, mendengarkan inginnya, dan tentu juga mengapresiasi tiap apa yang tengah ia perjuangkan. Lalu, apa yang sedang ia perjuangkan? Tentu saja, aku.
Jadi kataku, kamu dengarkan saja apa mau dirimu. Pahami, kemana ia ingin berlari. Karena kunci bahagia adalah bagaimana kamu, mampu memahami dirimu.
#byBee
Komentar