EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Salah Paham
"Akui saja bahwa kau salah paham. Dengan begitu, lebih mudah untuk membujuk hatimu. Meskipun rasa sakit, tidak ada yang salah paham. Ia nyata sakitnya." Oktavia Hani
Manusia, Allah menciptakan manusia dengan beragam karakter, dan juga beragam pemikiran. Tentu, atas dasar itu pula terkadang terjadi pergesekan antar pendapat kita, dengan pendapat orang lain. Itu, wajar bukan?
Sama halnya tentang suatu pendapat yang berbeda, anggapan yang tidak sama, juga penilaian yang beragam. Mungkin, kau pernah melakukan suatu hal yang bagimu wajar, umum, dan biasa saja. Tetapi, apakah dalam versiku juga sama denganmu?
Pernah tidak, merasa terluka saat seseorang menganggap sesuatu yang kita beri nilai istimewa, tetapi justru mendapatkan penilaian biasa saja, bahkan tidak ternilai di matanya?
Aku, pernah.
Dimulai dengan perhatian-perhatian kecil yang menumpuk, lalu menjadi anggapan bahwa ia menganggapku, istimewa. Menjalar naik, bersamaan kata-kata yang di telingaku menjadi bernama janji dan juga ikrar. Metamorfosa dari tiap hal yang ia lakukan, kemudian aku yakini sebagai bentuk, bahwa aku berarti.
Melambung tinggi, menjalani hari dengan anggapan-anggapan yang aku yakini kebenarannya. Terlebih, saat senyum dan tawanya seakan mengiyakan penilaianku. Damai, itu yang aku rasakan.
Faktanya, semua anggapan manis, penilaian spesial, dan keistimewaan yang luar biasa itu hanya singgah dalam hatiku, menari dalam logikaku. Bahkan, untuk menyentuh logikanya pun tidak.
Jadi, aku salah paham?
Anggap saja, iya. Namun, rasa sakit yang terasa ternyata tidak ada yang bernama salah paham. Rasa sakitnya, nyata. Kecewa yang hadir, juga nyata.
Hidup, memang suka sebercanda itu. Selalu saja tumbuh bersama dengan harapan yang melambung, yang keberadaannya nyata tidak ada, namun rasa sakitnya nyata ada. Lucu, bukan?
Kataku, lucu. Karena, aku butuh alasan untuk tertawa. Mengucurkan air mata, sebab tawa yang tidak bisa dihentikan. Bersembunyi dari fakta bahwa hati yang lebam, luka yang menganga adalah alasan utama, dari derai air mata yang deras membanjiri.
Rasa sakit, kecewa, ataupun patah sebab apa yang dianggap penting, nyatanya tidak ada artinya bagi orang lain. Orang yang bahkan, menjadi bagian dari hal penting itu sendiri tidak pernah menganggap semua yang ia lakukan untuk kita, berarti. Harus, rela patah?
Menurutku, boleh. Iya, kau ataupun aku, boleh patah. Tetapi, rasanya tidak adil untuk dirimu bukan?
Maka, jangan patah. Kau, ataupun aku, berharga. Untuk sekadar berdiri sebagai pesakitan dari hal yang tidak nyata. Akui saja, hati kitalah yang salah paham, logika kita salah mengartikan. Dengan begitu, kita akan mudah berdamai. Damai dengan rasa sakit, kecewa, bahkan mungkin rasa malu yang diam-diam tumbuh lebih besar dari semua rasa yang sedang dirasakan.
#byBee
Komentar