EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Dandelion

"Tumbuhlah dengan indah. Meskipun harus menyaksikan dandelion tertiup oleh angin, dan tumbuh di tempat lain." Oktavia Hani

Dandelion, bunga indah tapi rapuh. Sekali tertiup terbanglah ia menuju tempat lain, lantas menancapkan akar, dan tumbuh di sana.
Bagiku, dandelion seperti seseorang yang dengan santainya menumbuhkan keindahan. Demi untuk tertiup dan bisa tumbuh indah di kehidupannya yang lain. Layaknya, penghianat mungkin. Aku, benci dandelion.
Akan tetapi, tahu tidak? Bahwa, rasa benci seringkali muncul sebab kita mencari pelampiasan untuk bebas dari menyalahkan diri? Mencari sesuatu yang bisa kita benci, untuk melindungi hati.
Namun ternyata, cara itu salah. Terluka, lalu membenci. Keduanya, bukan melegakan hati. Justru, hati kita perlahan akan membeku, mati, dan tak lagi memiliki rasa.
Rasa lega saat membenci sesuatu hanyalah rasa yang kita ciptakan sendiri, untuk menutupi rasa kesal pada diri sendiri. Kesal, sebab tidak kunjung menemukan kedamaian hati.
Mungkin aku ataupun kamu, pernah duduk pada situasi di mana kita harus rela menjadi angin untuk menerbangkan dandelion, memberinya kesempatan untuk tumbuh di tempat lain. Pernah tidak, sekali saja berfikir tentang andai?
"Andai, aku tidak meniupnya,"
"Jika aku tidak meniupnya, dia akan tetap tumbuh dekat, di sampingku." Pernah berpikir seperti itu?
Aku, pernah. Menimbang diri, lalu menilai diri dengan status 'tidak pantas'. Lantas, mencari cara untuk membuatnya pergi. Padahal hati, ingin ia tetap tinggal. Ingin, ia menolak pergi. Ingin, ia bertahan di sampingku. Ahh, aku sempat lupa. Bahwa, ia adalah dandelion. Indah, namun tumbuh bukan untuk menetap di satu tempat saja. Lantas, kepergiannya tidak untuk disesali ataupun dibenci.
Seberapa banyak kita menimbang, hati kita pasti akan membenarkan bahwa membenci bukanlah cara terbaik untuk bertahan. Membenci orang lain, bahkan membenci diri sendiri bukanlah hal yang patut kita suburkan.
Hati, iya hati. Kita butuh untuk melindungi hati agar tidak beku, dan mati.
Bisakah untuk mulai berpikir bahwa, "Dandelion, tumbuh dengan meninggalkan tempat asalnya. Sedangkan, angin takdirnya adalah berembus. Maka tidak ada yang salah dari meninggalkan, ataupun berembus. Keduanya, takdir."
Lantas, siapa lagi yang harus kah salahkan?
Tidak ada. Karena kau ataupun aku, harus memeluk kenyataan. Tumbuh dengan pelajaran bukan penyesalan.
#byBee

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin Akan Kuceritakan #2

Rindu Yang Terdiam #3