EXPOSURE (Ketika Aku Mencintai Diriku) #Masa Lalu

"Berilah dirimu keadilan, dia tidak bisa terus kau hukum." Oktavia Hani

Aku dan kamu sebut saja, kita. Kita yang hidup bersama masa lalu. Bohong jika mengaku tidak memiliki masa lalu.
Tentang cinta, misalnya. Masa lalu, tentang cinta yang pernah terjalin ataupun cinta yang hanya bersemi seorang diri. Pernah setengah mati mencoba menghapusnya?
Aku, pernah. Mencoba menghapus keberadaan ia, yang baru kemarin hadir dalam hidupku. Baru kemarin?
Iya, kemarin. Hari sebelum hari ini tiba.
Kenapa? Alasanya, simpel. Hanya untuk melindungi hati.
Hari berlalu, nyatanya menghapus kehadirannya tak semudah itu. Apalagi, saat ia kerap datang dengan segala kesempurnaan. Sedangkan hati, sedang mencari kehangatan. Coba aku tanya, saat kamu butuh selimut, butuh tempat bersandar, lalu ada yang datang menawarkan paket lengkap apakah kamu bisa menolaknya?
Aku, tidak.
Meski, bukan dengan membuka sepenuh hati. Tetapi, pintu telah aku buka. Dia sudah aku persilakan masuk. Aku sambut dengan segelas kopi hangat. Sembari menikmati senyum yang tak lekang dari bibirnya, aku berharap dia akan menetap.
Bulan pun berlalu, aku mengukur diriku. Menimbang apa yang aku punya. Jawabannya, kami tidak setara. Dia, terlalu sempurna. Mungkin Yang Maha Pencipta terlalu menyayanginya, hingga segala keindahan ada pada dirinya. Garis keluarga yang berkedudukan tinggi, harta yang mencukupi, pengetahuan umum yang mumpuni, pemahaman agama yang amat baik, juga wajah yang rupawan. Sering aku bertanya, "Allah, kenapa kau ciptakan ia yang amat sempurna?"
Berkali aku menyadarkan diri. Menampar wajah, mencubit lengan, bahkan mengigit lidah sendiri. Untuk apa? Supaya aku, tersadar dari mimpiku. Mimpi, untuk membersamainya.
"Kamu baik, pintar, dan manis." katanya suatu hari padaku.
Bodohnya, aku percaya itu. Melambung tinggi tanpa tahu situasi. Kenyataannya, kami tetap tidak sebanding. Mencoba membangun jarak adalah caraku menjaga hati. Caraku, menyiapkan benteng agar tidak terluka terlalu dalam. Sialnya, pesonanya tidak mampu aku halau begitu saja.
Mencoba lagi untuk memantaskan diri. Sedangkan, perlahan ia juga membangun jarak yang cukup jauh. Ahh, bukan cukup jauh. Sangat, jauh. Tak bisa aku raih.
"Ketika seorang wanita menunjukkan batasan. Pergi, itu pilihan terbaik." Tulisnya pada story sebuah aplikasi pesan.
Tertawa sumbang aku membacanya. Perih, tanpa permisi menjalar ke seluruh tubuh. Begitukah ia menilaiku? Itukah caranya menjawab ketakutanku?
Tahun pun berlalu, harap tentangnya masih saja melampaui ekspektasi. Masih utuh di tempatnya. Tanpa peduli Sang Tuan sudah tak lagi menunjukkan perhatian. Membujuk hati sendiri adalah tantangan besar bagiku. Meyakinkan hati untuk melangkah pergi adalah perkara yang amat sulit, bagiku.
Lalu, apakah berhasil dengan menghapusnya dari masa laluku?
Tidak! Tiap bertemu orang baru, tanpa permisi logika akan membandingkannya dengan ia, seseorang di masa laluku. Sungguh, tidak adil bukan?
Lantas, apa yang harus dilakukan?
Bertahan! Iya, bertahanlah untuk terus membujuk hati agar tidak larut pada masa lalu. Sadarkan ia, bahwa masa lalu hanya boleh kita buka untuk dipelajari. Bukan untuk kita hidupkan lagi. Jika diri tersiksa karena tidak bisa berdamai dengan masa lalu, tidak belajar menerima kenyataan, dan tidak berusaha dengan baik untuk berjalan ke depan, tidak adil bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin Akan Kuceritakan #2

Rindu Yang Terdiam #3